Ternyata El Nino itu Tak Serupa dengan Gelombang Panas di India dan Asia

By | 12/08/2015

Gelombang Panas dan El Nino

Beberapa bulan terakhir, publik dunia dikejutkan dengan kabar bahwa negara-negara di Asia Selatan dan Asia Barat seperti India, Pakistan, Arab Saudi, dan kejadian terakhir di Iran, dan Mesir diterjang oleh gelombang panas. Bukan gelombang panas biasa, karena kejadian ini setidaknya telah menewaskan lebih dari 3.000 nyawa di seluruh Asia hanya dalam beberapa pekan dihempas gelombang panas!

Karena momennya yang bersamaan, kemudian banyak masyarakat Indonesia yang khawatir gelombang panas akan melanda Indonesia bahkan mengaitkan bencana kemarau panjang dan kekeringan di tahun ini sebagai dampak dari gejolak gelombang panas seperti di wilayah Asia lainnya. Benarkah demikian?

Dikutip dari laman Antaranews, ternyata Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menegaskan bahwa dari semua aspek dinamika cuaca dan iklim, gelombang panas di Asia jelas berbeda dengan EL Nino. Untuk diketahui, musim kemarau tahun ini di Indonesia berimbas semakin parah akibat fenomena El Nino.

Secara simpelnya, El Nino adalah bentuk fenomena yang menjelaskan tentang penyimpangan suhu kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di sekitar ekuator khususnya bagian tengah dan timur Samudera Pasifik. Karena secara langsung atmosfer dan lautan adalah unsur alam yang saling terhubung dalam sistem, maka penyimpangan pada kondisi lautan dan atmosfer akan langsung berpengaruh pada kondisi iklim di Bumi, khususnya di wilayah terdekat dari penyimpangan El Nino, Indonesia salah satunya. Karena imbas El Nino, Indonesia mengalami angka curah hujan yang berkurang secara signifikan karena rendahnya penguapan air laut.

Sedangkan gelombang panas yang menerjang wilayah Asia Selatan seperti India dan Pakistan serta semenanjung Arab hingga ke Mesir bisa dijelaskan secara ilmiah hanya merupakan pola musim kemarau yang meluas dengan suhu udara di atas rata-rata suhu maksimumnya.

Dilansir dari laman Antaranews, gelombang panas di Mesir termasuk negara-negara Semenanjung Arab dibawa oleh depresi musiman Samudera Hindia saat fenomena itu datang dari India dan melewati Semenanjung Arab, dua-duanya wilayah yang terlalu panas selama masa seperti ini, dan membawa temperatur yang sangat tinggi dan lembab ke sebagian negara regional termasuk Mesir

Perbedaan lainnya adalah biasanya El Nino berkembang sekitar bulan Mei/Juni, kemudian semakin kuat pada September/Oktober dan November hingga memuncak sekitar Desember atau Januari. Artinya El Nino punya rentang waktu yang panjang bisa lebih dari 5 bulan.

Sedangkan gelombang panas di Asia biasanya hanya berlangsung tak lebih dari dua pekan. Setelah melewati puncaknya di satu minggu pertama, gelombang panas akan berkurang seiring dengan melemahnya angin yang membawa suhu panas dari wilayah gurun gersang di Semenanjung Arab. (CAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *