Sikapi Bencana, ini 2 Rekomendasi Muhammadiyah bagi Indonesia

By | 12/08/2015

Muhammadiyah Menyikapi Bencana

Sebagai satu dari sekian organisasi islam terbesar dengan jutaan pengikutnya di Indonesia, selama ini Muhammadiyah selalu menjadi panutan. Baik dari sisi kancah perpolitikan dan kenegaraan, hingga seluk beluk nilai-nilai sosial, tak terkecuali sikap terhadap bencana yang terjadi di Indonesia.

Dilansir dari laman Mongabay.co.id, pekan lalu Muhammadiyah sukses melaksanakan muktamar akbar ke-47 di Makassar. Salah satu hasil dari Muktamar yang dirasa cukup menarik untuk diketahui publik secara umum adalah 13 poin yang menjadi rekomendasi Muhammadiyah terhadap berbagai masalah sosial yang sedang menggerogoti Indonesia secara terus menerus. Salah satu yang menjadi poin utama adalah urusan kerusakan lingkungan dan kebencanaan.

Berangkat dari 13 poin rekomendasi tersebut Muhammadiyah berjanji akan melakukan langkah-langkah pengelolaan strategis pada akar masalah yang masih menjadi problematika pelik. Terkait urusan kebencaan, melalui muktamar ke-47 lalu Muhammadiyah sepakat cara terbaik mengurangi risiko bencana yaitu mengubah cara pikir manusia yang terwujud dalam perilaku. Strategi utamanya adalah melalui jalur pendidikan formal maupun non formal pada seluruh keluarga besar Muhammadiyah.

Dari ke-13 poin yang dihasilkan dalam Muktamar-47 lalu, ada 2 poin yang secara jelas membahas tentang masalah kebencanaan dan persoalan lingkungan, yaitu pada poin ke 7 dan ke 11.

Masing-masing poin rekomendasi dalam hal kebencanaan berbunyi sebagai berikut:

Poin 7: Tanggap dan Tangguh Menghadapi Bencana

Muhammadiyah telah menerbitkan buku Teologi Bencana serta memiliki Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan relawan kemanusiaan yang piawai.  

Poin 11: Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

Muhammadiyah mendorong aksi nyata secara bersama-sama dan berkelanjutan untuk mengurangi dampak pemanasan global melalui usaha-usaha penghijauan hutan, mengubah gaya hidup yang boros energi, membersihkan polusi, membangun infrastruktur fisik yang ramah lingkungan, mengurangi penggunaan kertas dengan penghematan, daur ulang, dan meminimalkan penggunaan kertas melalui budaya paperless dengan pemanfaaatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti penggunan email dan media sosial untuk komunikasi antar manusia, pengembangan e-book, e-news papers, e-magazine dan website untuk referensi ilmiah dan pengetahuan mutakhir.

Dua poin di atas jelas menunjukkan apa yang menjadi janji dan misi masyarakat Muhammadiyah dalam menyikapi perubahan lingkungan dan risiko bencana yang makin sering terjadi. Terutama pada poin ke 11, menggariskan bagaimana konsentrasi dan teknis yang menjadi fokus masyarakat Muhammadiyah dalam urusan lingkungan dan bencana. Satu fokus yang unik adalah mengurangi penggunaan kertas dengan penghematan, daur ulang, dan meminimalkan penggunaan kertas. Seperti yang diketahui, kertas yang sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari berbahan dasar batang pepohonan yang terus ditebang secara ilegal di hutan-hutan Sumatera dan Kalimantan. Semakin hancur hutan, maka hukum alam akan berlaku. Alam akan bergejolak mencari keseimbangan baru sambil memberi ancaman bencana banjir, tanah longsor, hingga kekeringan parah seperti yang hari ini terjadi. (CAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *