Serba Serbi Qurban: Fakta Menarik dibalik Lezatnya Daging Sapi

By | 13/08/2015

Fakta Daging Sapi

Daging hewan apa yang paling nikmat disantap dalam bentuk bermacam jenis makanan? Hampir dipastikan jawaban mayoritas masyarakat dunia, benua manapun, suku bangsa apapun akan menjawab hal yang serupa, yaitu daging sapi.

Sebagai hewan ternak yang paling mudah ditemukan dengan ribuan jenis dan ras, Sapi adalah karunia Allah yang luar biasa. Dagingnya yang kenyal, tekstur seratnya yang berbeda-beda, rasanya yang gurih, hingga proteinnya yang luar biasa tinggi menjadikan daging sapi sebagai primadona. Bahkan rendang Sumatera Barat, masakan yang berbahan dasar 100% dari daging sapi menjadi makanan terenak di seluruh dunia menurut lembaga pemeringkat makanan dunia.

Hari ini, daging sapi di Indonesia pun ibarat emas, langkanya daging sapi karena permainan oknum menjelang idul qurban membuat daging sapi diburu dan dicari walau harganya melonjak hampir 50% dari harga normalnya. Menjelang idul qurban yang menyisakan waktu beberapa pekan ke depan, primadona daging sapi memang makin meningkat.

Dibalik konsumsi daging sapi, ternyata daging sapi yang biasa dijadikan santap ketika idul qurban pun punya banyak sekali fakta unik. Berikut adalah serba serbi dibalik lezatnya daging sapi:

  1. Asal Usul Sapi

Fakta unik pertama mulai dari asal usul sapi. Dilansir dari laman National Georgraphic, nenek moyang sapi jika ditarik berdasarkan garis keturunannya adalah Auroch, binatang yang menurut genetikanya dikenal kuat, pintar, dan sangat gesit. Kisah tentang Auroch tercatat dalam sejarah Romawi Kuno. Dahulu, Julius Caesar dalam catatannya pernah menulis tentang ketakutannya jika bertemu hewan Auroch di tengah hutan liar. Bahkan Auroch dibawa ke Colloseum Roma untuk bertarung melawan gladiator.

Perlahan, orang-orang Romawi kuno mulai menyadari manfaat Auroch sebagai hewan ternak yang bisa diperah susu dan dikonsumsi daging sapi nya.Lambat laun, auroch mulai dipelihara dan diternak hingga berkembang menjadi 800 keturunan berbeda. Kini, auroch sudah punah, betina terakhirnya ditemukan mati 300 tahun lalu di Polandia.

  1. Faktanya, konsumsi daging telah mengubah proses pemanasan global lebih cepat daripada pembakaran bensin

Entah bisa menjadi kabar positif atau negatif, nyatanya konsumsi daging sapi yang luar biasa banyak di seluruh dunia telah dibuktikan punya pengaruh besar terhadap perubahan iklim. Mengapa demikian? Apa hubungannya ternak sapi dan pemanasan global?

Masih dilansir pula oleh laman National Geographic, pasangan aktivis lingkungan dan penulis buku Cowed: The Hidden Impact of 93 Million Cows on America’s Health, Economy, Politics, Culture, and Environment, Denis Hayes dan Gail Boyer Hayes, mengatakan kepada National Geographic: “Jumlah karbon dioksida yang dihasilkan dari produksi daging sapi tiap ponnya (1 pon=453gram), nyatanya, jauh lebih besar dari yang dihasilkan dari pembakaran bensin.

Penjelasan mudahnya seperti ini, umumnya daging sapi yang dikonsumsi sehari hati butuh energi banyak sejak proses peternakannya hingga menjadi santapan lezat di atas meja makan Anda. Asumsinya, energi yang dikeluarkan lebih besar dari yang dikeluarkan oleh pembakaran bensin di seluruh dunia.

Jumlah energi tersebut merupakan kalkulasi dari hasil pemupukan jagung yang menjadi makanan sapi ternak, energi dari hasil pembakaran bensin yang digunakan mesin traktor untuk membajak ladang, gas yang dipakai untuk memindahkan jagung hasil panen ke tempat peternakan sapi untuk kemudian diberikan ke sapi sebagai makanannya, energi yang dipakai untuk memotong dan mengawetkan daging sapi, mengirimnya ke pasar dan supermarket, gas yang terkandung dalam sunblock lotion yang dipakai konsumer sebelum pergi ke pasar demi daging sapi, dan yang terakhir gas yang digunakan konsumer  untuk mengolah daging sapi tersebut.

Ah, Logika yang masuk akal! (CAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *