Mengharap Perdamaian Palestina dari KTT OKI dan Deklarasi Jakarta

By | 10/03/2016

perdamaian-palestina

Awal Maret 2016 ini jadi momentum kehormatan bagi Indonesia. Negeri ini, ditunjuk oleh Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa OKI ke – 5, dengan mengangkat isu perdamaian dari deru konflik di Palestina.

Puncak dari pertemuan akbar negara-negara muslim dunia itu pun sukses dihelat pada Senin, 7 Maret 2016 kemarin. Didului pertemuan tingkat tinggi setara pemimpin negara satu hari sebelumnya.

Bicara tentang isu perdamaian Palestina, gaung akan isu ini bisa dibilang sudah meresap jadi bagian dari diskusi masyarakat Indonesia. Siapa di antara publik Indonesia yang tak mengenal Palestina? minimal mengetahui nama negara tersebut, atau malah lebih jauh mengetahui latar konflik seperti apa yang sedang terjadi di sana?

Kedekatan antara Indonesia dengan Palestina memang sudah terjalin sejak lama, Indonesia dan mayoritas Muslim di negeri ini tak bisa dipungkiri, ikut berperan dalam mendistribusi bantuan kemanusiaan dan membicarakan peluang perdamaian untuk Palestina. Salah satu klimaks dari peran negeri ini untuk perdamaian Palestina pun hadir dalam kesempatan KTT OKI ke-5.

Indonesia didaulat menjadi tuan rumah bagi diskusi mendalam tentang perdamaian Palestina yang dihadiri oleh 605 anggota delegasi dari 55 negara, termasuk 49 negara anggota OKI, dua negara peninjau, lima anggota permanen Dewan Keamanan PBB, dua negara kuartet, dan dua organisasi internasional (PBB dan Uni Eropa).

Kini, KTT OKI sudah mengetuk palu tanda usainya diskusi tingkat tinggi. Negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pun berhasil mengesahkan 23 butir poin yang dirangkum dalam sebuah lembaran kesepakatan bertajuk: Deklarasi Jakarta. Hasil dari KTT OKI di Jakarta ini diharap bisa jadi pedoman langkah baru dalam mengusung rencana baik bagi perdamaian negeri Palestina.

Mengutip pemberitaan Kantor Berita Antara, Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI) Iyad Amen Madani memberikan simpulan akhir usai penutupan KTT OKI Ke – 5. Ia menekankan bahwa setelah di Jakarta, upaya negosiasi damai antara Palestina dan Israel harus tetap dilanjutkan. Walau memang, masih terbentang jalan panjang dan usaha yang lebih masif lagi untuk meneruskan negosiasi damai antara Palestina dan Israel, tentu dengan tetap berpijak pada resolusi “Two States Solution”  atau Solusi Dua Negara, bukan dengan jalan kekerasan.

Pada simpulannya, menurut paparan Sekjen OKI, KTT OKI ke-5 di Jakarta berusaha untuk meluruskan lagi arah perdamaian Palestina dengan orientasi aksi, menjadikan isu Palestina bukan hanya isu kawasan tetapi juga bergerak menuju isu global, satu urgensi penting bahwa perdamaian Palestina jangan sampai dilemahkan.

Secara garis besar, bagian pertama Deklarasi Jakarta menyebut kesepakatan negara-negara OKI untuk mendukung usaha Arab Saudi dan Jordania dalam mempertahankan dan menjaga situs suci Masjid al Aqsa.

Lebih lanjut, Deklarasi Jakarta juga berisi pernyataan negara-negara OKI yang mengutuk dan meminta secara tegas pada Israel agar menghentikan pendudukan atau okupansi semena-mena terhadap tanah Yerussalem dan Palestina. Bahkan Isreal diketahui telah berbuat lebih kejam lagi, dengan mendirikan pemukiman bagi warga Yerussalem di Tepi Barat, bagian teritorial sah milik Palestina.

Kesepakatan negara-negara OKI di Jakarta pun membuahkan satu kesepakatan untuk membentuk “Al Quds and Al Aqsha Funds” (dana Al Quds dan Al Aqsha), kumpulan dana yang digunakan untuk melakukan rehabilitasi tanah Yerussalem, berdasarkan kebutuhan dan permintaan mendesak Rakyat Palestina. Langkah tegas lain yang tertulis juga dalam poin-poin Deklarasi Jakarta menyebut tentang aksi boikot oleh semua negara-negara OKI terhadap produk Israel dan juga kebijakan yang dikeluarkan dari pemerintah Israel.

Pada simpulannya, poin terakhir yang tertulis dalam Deklarasi Jakarta akan menjadi panduan bagi dunia internasional untuk terus mengusahakan solusi dua negara antara Palestina dan Israel. Cara-cara yang akan ditempuh misalnya melalui dialog lintasagama, menyuarakan isu tentang kondisi Palestina di forum internasional serta yang paling jelas adalah mendukung rekonsiliasi Palestina.

Semoga saja dari Jakarta, kemerdekaan yang absolut untuk negeri Palestina bisa segera terwujud.

(cal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *