Mengingat lagi Dampak Dahsyat Letusan Gunung Krakatau

By | 02/09/2015

Dampak Letusan Krakatau

Krakatau, adalah nama sebuah gunung berapi yang begitu menggema di benak masyarakat Indonesia. Dampak dahsyat letusan Krakatau 132 tahun lalu menjadi cerita turun temurun yang begitu fenomenal bagi masyarakat Indonesia. Kala itu, bencana meletusnya Gunung Krakatau menjadi catatan bencana gunung meletus terbesar dan paling mematikan sepanjang sejarah peradaban modern manusia.

Kurang dari sepekan lalu, 27 Agustus menjadi hari perayaan ke 132 tahun letusan Gunung Krakatau. Tak ada perayaan yang istimewa memang, namun setidaknya “ulang tahun” ke 132 meletusnya Gunung Krakatau dapat menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia, khususnya Pulau Jawa dan Sumatera untuk mengingat lagi dampak dahsyat letusannya.

Terlebih, hingga hari ini, Gunung Anak Krakatau – sisa letusan gunung Krakatau yang muncul dari permukaan laut – masih sangat aktif dan terus bertambah tinggi puncaknya. Jakarta sebagai kota terdekat dengan Anak Krakatau secara gamblang berada di bawah bayang-bayang dahsyatnya letusan Krakatau jilid II.

Sebagai pengingat, akibat letusan Krakatau yang terjadi 27 Agustus 1883 lalu, terjadi gelombang dahysat tsunami setinggi lebih dari 40 meter! Atau 4 kali lipat lebih tinggi dan lebih besar daripada tsunami Aceh 2004 silam. Ombak tsunami puluhan meter itu terbentuk akibat perubahan besar pada dasar Bumi sekitar Gunung Krakatau. Ketika Krakatau meletus, dahsyatnya letusan menghancurkan seketika bentuk Krakatau, dan mengguncangkan patahan di sepanjang Selat Sunda.

Dampaknya bukan main mematikan, catatan kebencanaan saat itu mencatat ada 165 desa di sekitar Selat Sunda yang terdampak langsung hempasan tsunami, dan mengakibatkan sedikitnya 36.417 orang tewas akibat letusan Krakatau.

Jika dibandingkan dengan latusan Tambora yang terjadi hampir seabad sebelum letusan Krakatau, besarnya kekuatan letusan memang lebih besar Gunung Tambora. Namun Krakatau menjadi yang paling mematikan dengan korban tewas puluhan ribu jiwa karena populasi penduduk Nusantara kala itu sudah banyak dibandingkan populasi manusia di masa letusan Tambora. Terlebih populasi penduduk di Kota Batavia, dan jga Banten yang menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Banten.

Dilansir dari laman CNN, banyak ahli memperkirakan bahwa dampak letusan Gunung Krakatau setara dengan 30 ribu kali ledakan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki di penghujung Perang Dunia ke II.

Dampak letusan Gunung Krakatau pun berlangsung sangat lama, sampai setahun kemudian matahari enggan bersinar terang karena padatnya material vulkanik yang menutupi langit Nusantara.

Bahkan catatan Krakatoa Committe of the Royal Society, sebuah lembaga internasional yang berfokus pada jejak historis letusan Krakatau punya catatan dampak letusan Gunung Krakatau membawa abu vulkanik hingga ke Norwegia di Eripa, dan New York Amerika Serikat.

Bagaimana dengan dentuman suaranya? Hancurnya Gunung Krakatau akibat letusannya sendiri telah menimbulkan suara dentuman letusan gunung berapi terkuat sepanjang sejarah modern. Suara dentumannya merambat sangat kuat hingga terdengar di Alice Springs Australia, dan Pulau Rodriuges di pesisir barat Afrika yang jaraknya kurang lebih 5.000 kilometer dari Krakatau. (CAL)

img : travelledpaths

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *