Melihat Geliat Muslim Rohingya di Masjid Arakan, Aceh Utara

By | 10/07/2015

masjid-arakan

Sudah hampir dua bulan lamanya kisah heroik tentang penyelamatan akbar dua ribu orang Rohingya oleh nelayan Aceh dari atas kapal yang terapung di tengah laut. Kini orang-orang Rohingya yang ditampung dan diberdayakan di Desa Blang Adoe, Kabupaten Aceh Utara bisa menikmati indahnya keberkahan Ramadhan dengan aman, tentram, dan nyaman.

Mungkin, ramadhan tahun ini adalah ramadhan terindah bagi ribuan orang Rohingya di Aceh Utara. Baru kali ini ada kesempatan bagi mereka untuk menunaikan kewajiban puasa ramadhan serta gelaran ibadah dan kebaikan sunnah lainnya dengan khusyu, tanpa diskriminasi sama sekali. Seperti yang diketahui, telah puluhan tahun orang-orang Rohingya yang menetap di negara bagian Rakhine, Myanmar terpaksa hidup dalam penderitaan. Jangankah beribadah, hanya untuk menikmati hak hidup berdagang, bersekolah, dan bergaul dengan warga sekitar yang mayoritas Buddha pun mereka dipersulit.

Kini, cerita kelam tentang kehidupan di Rakhine hanya menjadi masa lalu bagi mereka. Setelah diselamatkan dan dimuliakan selayaknya tamu terbaik oleh masyarakat Aceh, mereka dapat berbagi kebahagiaan ramadhan bersama ribuan masyarakat Aceh lain. Terlebih setelah Masjid Arakan yang berlokasi di tengah lahan Integrated Community Shelter (ICS) Desa Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara usai dibangun. Masjid Arakan terletak dalam shelter khusus yang didirikan oleh sokongan dana donasi para jamaah Majelis Ta’lim PT Telkom Indonesia dikoordinasi oleh Aksi Cepat Tanggap.

Masjid kompleks ICS Blang Adoe ini dibangun para relawan ACT hanya dalam tempo dua pekan. Tepat tanggal 30 Juni yang lalu, pembangunan Masjid Arakan dinyatakan selesai.

Arsitektur Masjid Arakan didesain sedemikian rupa sehingga mampu menampung ratusan muslim Rohingya untuk menunaikan ibadah ramadhan dengan nyaman dan khusyu.

Desain bangunan yang terasa luas, dengan hembusan angin yang menyejukkan semakin menambah nikmat kesan beribadah di masjid ini.

Menurut Muhammad Noor Salikhin, arsitek pembangunan komplek ICS, pembangunan Masjid Arakan sengaja di desain terbuka. Konsep pembangunan masjid dibuat terbuka, karena nantinya masjid bisa menjadi multifungsi. Selain tempat ibadah juga digunakan untuk sarana berkumpul penghuni shelter, bisa juga digunakan sebagai tempat musyawarah.

Menjelang hitungan hari terakhir ramadhan ini, Masjid Arakan telah difungsikan sebagaimana mestinya. Geliat kegiatan para muslim Rohingya nampak riuh mengisi setiap pojok Masjid Arakan. Ada yang mengaji, ada yang menunaikan shalat sunnah, berjamaah mengisi tarawih, hingga belajar agama bersama para Relawan dari Indonesia. Bagi mereka kebahagiaan yang paling mereka butuhkan memang hanya sebatas kebahagiaan untuk menjalankan ibadah tanpa ada diskriminasi dan penindasan seperti yang mereka alami di Rakhine. Kini, senyum dan bahagia itu Alhamdulillah telah tercipta di Masjid Arakan.

Meskipun Integrated Community Shelter telah usai dibangun seutuhnya, namun beberapa bangunan belum dapat difungsikan karena masih menunggu prosesi peresmian sesuai dengan adat masyarakat Aceh ba’da idul fitri nanti. (CAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *