Mana yang Didahulukan, Ibadah Qurban atau Sedekah bagi Korban Bencana?

By | 08/09/2015

Qurban atau Sedekah

Bencana datang silih berganti di Indonesia, hampir semua titik di negeri ini tak pernah sedikitpun terbebas dari ancaman bencana, terlebih bencana yang disebabkan oleh kekuatan alam yang menghancurkan. Gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dll silih berganti datang menyapa masyarakat Indonesia.

Peringatan alam yang selalu datang tanpa jeda itu pun perlahan membangkitkan solidaritas dan kepekaan masyarakat Indonesia terhadap nilai-nilai sosial. Hal ini semakin terpupuk selama beberapa tahun terakhir, ketika ekonomi Indonesia bergerak perlahan dari keterpurukan pasca reformasi silam. Hari ini, puluhan juta masyarakat Indonesia adalah donatur tetap yang selalu menyumbangkan sedikit rezekinya untuk mengurangi derita masyarakat Indonesiaa yang terpapar bencana. Bergotong royong mengobati luka, membangun negeri yang terkena bencana.

Namun, di antara rentetan bencana yang terjadi beberapa bulan terakhir, tak lama lagi muslim di seluruh dunia pun akan serentak menjalankan perayaan ibadah qurban. Akhirnya banyak dari kaum muslimin yang mampu secara ekonomi meniatkan berqurban, menyembelih hewannya kemudian mendistribusikannya kepada para fakir dan korban bencana di wilayah-wilayah pengungsian.

Namun ada pula yang berpikiran lain. Logika ekonominya telah memutar balikkan hukum sedekah dan ibadah qurban. Kasusnya ketika seorang muslim menganggap bahwa niatan qurbannya lebih baik langsung saja diberikan kepada korban bencana dalam bentuk uang seharga kambing atau sapi, kemudian biarkan para masyarakat pengungsi bencana itu mengelola uangnya untuk dibelikan hewan qurban atau urusan lainnya terserah. Mereka menganggap tindakan itu jauh lebih mudah dan murah, karena harga hewan qurban di masa idul qurban ini pasti melonjak tinggi. Jadi lebih baik memberikan saja uangnya langsung ke pengungsi bencana.

Bolehkah berlaku demikian?

Dilansir dari laman VoA-Islam, penjelasan tentang kasus ini dapat disimak dari perkataan seorang ulama besar kontemporer Syeikh Utsaimin rahimahullah, beliau berkata bahwa: Berkurban lebih utama dari bersedekah dengan uang senilainya atau lebih”

Adapula pendapat lain, Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

“Menyembelih pada waktunya lebih utama dari sedekah dengan nilainya walaupun lebih besar dari itu seperti dalam Hadyu dan Kurban karena menyembelih dan mengucurkan darah (hewan qurban) adalah ibadah yang sering dikaitkan dengan shalat sebagaimana firman Allah Ta’alaa: (maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah) [QS Al-Kautsar: 2]. Dan firman-Nya: (katakanlah sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam) [QS Al-An’am: 162].

Maka kesimpulannya dalam setiap ajaran ibadah shalat dan menyembelih tidak bisa digantikan.

Maka dari itu, analisis akhirnya adalah tidak bisa meninggalkan niatan ibadah qurban ketika mampu dengan cara mengalihkannya kepada mereka para yang tertimpa musibah atau bencana alam. Cara terbaik untuk membantu korban bencana di masa-masa idul qurban adalah dengan menyembelih hewan qurban kemudian mendistribusikan dagingnya kepada mereka yang membutuhkan di tenda-tenda pengungsian. Atau bisa juga dengan cara mengirimkan sejumlah uang ke tempat musibah bencana, lalu di lokasi bencana dibelikan hewan qurban, kemudian menyembelihnya dan dagingnya dibagikan kepada mereka pengungsi yang lebih membutuhkan.

(CAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *