Lebih Jauh Mengenal La Nina, si “Saudara Kembar” El Nino

By | 12/08/2015

mengenal-la-nina

Sejak musim kemarau menerjang Indonesia beberapa bulan terakhir, publik di Indonesia nampak makin akrab dengan istilah ilmiah yang menjelaskan tentang fenomena perubahan suhu yaitu El Nino. Yaitu penyimpangan suhu muka air laut di wilayah Samudera Pasifik bagian Ekuator yang menyebabkan rendahnya penguapan air aut di Indonesia sehingga awan hujan enggan muncul.

Namun tahukah Anda bahwa sesungguhnya El Nino punya “Saudara Kembar” yang bernama La Nina. La Nina pun serupa dengan El Nino yang berasal dari bahasa Spanyol. Jika El Nino berarti “anak laki-laki kecil”, La Nina punya arti “anak gadis kecil”. Seperti yang dikutip dari berbagai sumber, fenomena La Nina berawal dari menguatnya Angin Pasat Tenggara, sedangkan suhu muka air laut di Samudera Pasifik sebelah barat lebih hangat daripada suhu tropis di Timur Pasifik yang berada pada kondisi lebih dingin.

Akibat dari pola suhu permukaan laut yang seperti itu, atmosfer tropis di wilayah barat Pasifik mengalami penguapan air dengan kadar yang lebih tinggi. Karena penguapan air laut yang tinggi, maka kemungkinan untuk munculnya awal Cumulus sebagai awan pembawa hujan pun menjadi semakin meningkat. La Nina kemudian membawa dampak hujan yang lebat bahkan bencana banjir, khususnya di Indonesia. Namun sebaliknya, La Nina membawa dampak kemarau dan kekeringan di wilayah Pasifik Timur antara wilayah Peru dan Ekuador.

Dilansir dari laman Oceanservice, La Nina cenderung terjadi lebih lama dibandingkan dengan El Nino. Namun fenomena La Nina cenderung membawa dampak yang berbeda-beda di setiap areanya, walau memang di wilayah barat Pasifik cenderung sama dengan potensi hujan yang menguat drastis. Dari situs earthobservatory, terjadinya La Nina menyebabkan sering terjadinya hujan di daerah pasifik seperti Indonesia, Malaysia, dan sekitar Utara Australia.

Karena prosesnya yang saling berhubungan dengan El Nino akibat dinamika atmosfer dan suhu permukaan laut, La Nina terkadang terjadi setelah hadirnya fenomena El Nino. Namun El Nino muncul pada siklus tertentu dan tidak lebih dari satu kali siklus tahunan, sekitar 4 hingga 5 bulan, berbeda dengan La Nina yang bisa terjadi bahkan hingga bertahun-tahun .

Dikutip dari laman Al Jazeera, setidaknya selama 1 abad terakhir perhitungan modern dunia Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. La Nina telah terjadi pada tahun 1904, 1908, 1910, 1916, 1924, 1928, 1938, 1950, 1955, 1964, 1970, 1973, 1975, 1988, 1995 dan 1998. (CAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *