La Nina di Indonesia Terjadi Bulan Agustus sampai September 2016

By | 16/05/2016

lanina-indonesia

Musim hujan di Indonesia perlahan mulai berganti menjadi musim kemarau. Akhir bulan Mei 2016 ini diperkirakan jadi puncak dari peristiwa pergantian musim ini. Ketika memasuki musim kemarau, berarti hampir seluruh wilayah Indonesia harus mulai bersiap menyiapkan risiko suhu panas yang mencekam dan curah hujan yang minim selama berbulan-bulan. Pertanyaannya kemudian, apakah musim kemarau tahun ini akan terjadi serupa seperti datangnya musim kemarau di tahun lalu? Tahun 2015 kemarin, kemarau yang menerjang Indonesia bisa dikategorikan sebagai bencana kemarau terburuk selama beberapa dekade terakhir.

Jawaban dari kekhawatiran publik ini akhirnya terjawab setelah pekan kemarin Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memberikan keterangan persnya tentang potensi fenomena cuaca di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2016.

Menurut perkiraan dari BMKG, ternyata setelah melewati fase El Nino yang berat tahun 2015 lalu, bahkan sampai menyebabkan bencana kemarau panjang dan kebakaran hutan, tahun ini fenomena cuaca mulai membaik bagi Indonesia. Pasca fenomena El Nino, saat ini BMKG memperkirakan langit Indonesia akan dipenuhi oleh gejala La Nina, atau kebalikannya dari fenomena El Nino. La Nina di Indonesia jika sesuai dengan perkiraan akan terjadi di antara bulan Juli sampai dengan bulan September mendatang. Kesimpulan ini dirilis oleh Kepala BMKG Andi Eka Sakya di Manado, pekan lalu.

Saat kondisi La Nina, berdasar pengalaman 1998 dan perbandingan pada 2010 adalah kenaikan curah hujan yang dimulai pada periode Juli, Agustus dan September 2016. Jadi, La Nina akan berkebalikan dengan El Nino tahun kemarin.

Dalam kondisi La Nina di Indonesia, curah hujan kemungkinan besar akan semakin bertambah. Eka Sakya mengatakan, kalau El Nino curah hujan di Indonesia akan berkurang seperti yang terjadi tahun lalu.  Sementara La Nina adalah fenomena sebaliknya. Curah hujan akan makin bertambah apalagi jika terjadi pada bulan akhir tahun yang sudah memasuki musim hujan.

Jika melihat kembali potensi munculnya hujan di langit Indonesia, ada dua faktor yang dianggap bisa menjadi pemicu munculnya hujan deras.

Faktor pertama, hujan di Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh aktivitas monsoon Asia dimana pola angin musiman yang berbentuk setiap enam bulan sekali di Indonesia akan menjadi pengaruh seberapa besar potensi hujan.

Kemudian faktor kedua adalah fenomena El Nino dan La Nina. Jika El Nino berarti “anak laki-laki kecil”, La Nina punya arti “anak gadis kecil”. Seperti yang dikutip dari berbagai sumber, fenomena La Nina berawal dari menguatnya Angin Pasat Tenggara, sedangkan suhu muka air laut di Samudera Pasifik sebelah barat lebih hangat daripada suhu tropis di Timur Pasifik yang berada pada kondisi lebih dingin.

Akibat dari pola suhu permukaan laut yang seperti itu, atmosfer tropis di wilayah barat Pasifik mengalami penguapan air dengan kadar yang lebih tinggi. Karena penguapan air laut yang tinggi, maka kemungkinan untuk munculnya awal Cumulus sebagai awan pembawa hujan pun menjadi semakin meningkat. La Nina kemudian membawa dampak hujan yang lebat bahkan bencana banjir, khususnya di Indonesia. Namun sebaliknya, La Nina membawa dampak kemarau dan kekeringan di wilayah Pasifik Timur antara wilayah Peru dan Ekuador.

Melansir dari laman Oceanservice, La Nina cenderung terjadi lebih lama dibandingkan dengan El Nino. Namun fenomena La Nina cenderung membawa dampak yang berbeda-beda di setiap areanya, walau memang di wilayah barat Pasifik cenderung sama dengan potensi hujan yang menguat drastis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *