Pelajaran Berharga dari Gempa Garut: Pahami Potensi Gempa di Jawa Barat

By | 09/04/2016

potensi gempa jawa

Awal bulan April tahun 2016 ini sebuah gempa kategori cukup besar mengagetkan warga Garut, Jawa Barat. Seismograf Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat gempa di sekitar lepas pantai Garut ini terjadi pada Rabu, 6 April 2016 pukul 21.45 pada kekuatan 6.1 Skala Richter dan kedalaman gempa yang tergolong dangkal, hanya sekitar 10 Km saja. Jika ditarik garis lurus, titik pusat gempa ini berada sangat dekat dengan daratan Kabupaten Garut dan pesisir selatan Jawa lainnya termasuk Cilacap dan Bandung Selatan.

Kejadian gempa di Garut ini pun membangkitkan kembali ingatan bahwa kawasan Selatan Jawa Barat memang memiliki potensi gempa yang cukup besar. Hal ini menjadi wajar, sebab secara geologis, pantai selatan Jawa Barat menjadi titik pertemuan dari dua lempeng besar Bumi, yakni lempeng Eurasia dan lempeng IndoAustralia.

Gempa di selatan Jawa Barat, termasuk kejadian gempa di Garut dan gempa di Pangandaran yang sampai menyebabkan tsunami beberapa tahun lalu pada dasarnya terjadi di jalur subduksi atau jalur pertemuan kedua lempeng besar tersebut. Setiap tahunnya, tumbukan antara lempeng Indo Australia dan lempeng Eurasia ini bergerak sangat aktif sebesar 5-7 cm/tahun dari selatan ke utara, dan menyebar ke timur laut.

Patahan Cimandiri, adalah sebuah patahan yang garis patahannya memanjang dari barat ke timur wilayah Sukabumi bagian selatan. Bentuk morfologinya terekam dalam bentangan Teluk Pelabuhan Ratu hingga selatan Kota Sukabumi berupa kelurusan sepanjang lembah Cimandiri. Jejak patahan patahan ini memang belum dikaji lebih dalam, namun potensi dan risiko terburuknya akan ancaman bencana gempa bumi tetap harus diwaspadai.

Menurut penelitian awal yang dirilis oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada 2006, Patahan Cimandiri terbagi dalam lima segmen, yaitu segmen 1 antara Cimandiri Pelabuhan Ratu-Citarik, Segmen 2 Citarik-Cadasmalang, segmen 3 Ciceureum-Cirampo, segmen 4 Cirampo-Pangleseran, dan segmen 5 Pangleseran-Gandasoli.

Pergerakan patahan ini tercatat bergerak 4 hingga 6 mm per tahun dengan bentuk patahan yang bergeser ke kiri (left lateral). Pergeseran patahan yang bergerak ke arah samping ini untungnya hanya berpotensi menimbulkan bencana tsunami dalam skala kecil, mengingat salah satu penyebab utama bencana tsunami adalah pergerakan patahan naik/mengarah ke atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *