Bencana Alam 2016 paling Rentan Menghantam Masyarakat Adat

By | 12/01/2016

masyarakat-adat-rentan-bencana

Tahun berganti, Indonesia menyapa tahun baru 2016 dengan harapan baru. Salah satu harapannya tentu adalah doa dan harap agar bencana alam yang membawa derita masyarakat di tahun 2015 lalu tak terulang lagi di tahun 2016 ini. Diputar kembali ke belakang, catatan bencana Indoneia di tahun 2015 memang masuk kategori parah. Kebanyakan diawali dengan fenomena El Nino atau pembawa musim panas terik berbulan-bulan di Indonesia.

Akhirnya hampir seluruh kawasan di Indonesia mengalami apa yang dinamakan sebagai musim kemarau panjang. berturut-turut setelah itu bencana yang lebih buruk datang. Mulai dari kekeringan berbulan-bulan tanpa air bersih, hingga pada kasus tragedi kebakaran hutan dan kabut asap di Sumatera dan Kalimantan.

Lembaran baru tahun 2016 pun sudah dimulai. Walau memang bencana pada akhirnya adalah kejadian yang tak dapat ditolak, namun mitigasi atau pengurangan risiko bencana harus tetap diusahakan.

Pertanyaan berikutnya yang terpikirkan adalah siapa komunitas atau masyarakat yang paling rentan bencana? Beberapa pihak mengajukan jawaban bahwa masyarakat paling rentang becana di Indonesia adalah masyarakat adat.

Dilansir dari laman Beritasatu.com, mengingat risiko bencana Indonesia yang begitu besar dan rentan terhadap masyarakat adat, keberadaan wilayah adat perlu dipulihkan dan ditata kembali berdasarkan budaya dan pengetahuannya. Sebab, banyak wilayah adat di Indonesia yang kini semakin terpuruk dalam kondisi terpencil dan terkucil.

Risiko masyarakat adat terhadap bencana alam di Indonesia ini bukan omongan kosong, misalnya lihat saja bagaimana tsunami Aceh tahun 2004 silam turut menghempas kawasan Pulau Mentawai yang dihuni oleh masyarakat adat Mentawai. Lalu masih teringat juga bagaimana kasus kebakaran hutan tahun 2015 kemarin memaksa ratusan warga Suku Anak Dalam di Jambi harus mengungsi ke kota karena rumahnya di tengah hutan terbakar oleh kabut asap yang menyesakkan.

Dalam contoh lain banyak pula masyarakat adat yang dikhawatirkan masih mengalami shock culture. Misalnya seperti yang dijelaskan Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman), Abdon Nababan dilansir dari Beritasatu.com, menurutnya Orang Bajau, Jambi yang tinggal di laut lalu kemudian dipindahkan ke darat karena alasan kesejahteraan. Mereka belum tahu yang namanya longsor, banjir, karena selama ini tinggal di laut.

Celah antara ketimpangan informasi masyarakat adat inilah yang harus segera diisi oleh Pemerintah sebagai jembatan penghubung informasi. Kenyataannya selama ini masyarakat adat Indonesia yang jumlahnya mencapai ribuan suku serta adat hanya sebagai korban dari bencana alam yang terjadi sama sekali bukan karena ulah mereka.

Kenyataannya, kearifan lokal masyarakat adat justru jauh lebih bisa menghargai alam ketimbang masyarakat Kota yang penuh dengan egoisme dan keserakahan.

(cal)

Img: balanginstitute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *