Begini Dampak Buruk jika Kerusakan Hutan Masih Terus Berlanjut

By | 29/09/2015

kerusakan-hutan

Beberapa bulan terakhir, bencana kebakaran hutan terus melalap dan membawa kabar buruk bagi jutaan warga Sumatera dan Kalimantan. Luasnya area kebakaran hutan makin menyulitkan operasi pemadaman. Akibatnya, hutan terus terbakar, merambat semakin meluas, membawa kabut asap yang demikian pekat di Provinsi Riau dan sebagian besar wilayah Kalimantan.

Terbakarnya area hutan di Sumatera dan Kalimantan jelas menambah besar angka luasan wilayah hutan di Indonesia yang rusak. Padahal, menurut salah satu aktivis dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) seperti yang dikabarkan CNN Indonesia, rusaknya hutan bisa menjadi salah satu penyebab dari datangnya penyakit bagi manusia. Pada dasarnya seluruh elemen di alam semesta ini memang memiliki keterkaitan, jika hutan sebagai salah satu bagian di dalamnya semakin rusak, maka akan berhubungan langsung dengan kondisi manusia di dalamnya.

Mirisnya, kerusakan hutan dan kerusakan lingkungan pada skala yang lebih besar seringkali terjadi akibat dari ulah manusia itu sendiri. Tak dapat dielak, perilaku manusia semakin tak bisa menghargai dan menjaga alam. Budaya tak kenal aturan di kota di bawa hingga masuk ke dalam hutan, ke atas gunung. Sampah berserak, api sengaja dinyalakan. Maka timbullah kebakaran hutan.

Bagaimana rusaknya hutan dapat berdampak buruk bagi manusia? berikut penjelasannya.

Seperti dikutip dari CNN Indonesia, ketika hutan itu rusak, maka oksigen jelas akan berkurang. Hutan punya peranan penting bagi terjaganya kandungan oksigen di bumi. Masih teringat bagaimana pelajaran Ilmu Pengatahuan Alam di bangku sekolah dasar dahulu? Dahulu kita pernah belajar tentang pepohonan yang mengeluarkan oksigen dan kemudian menyerap karbon untuk proses kehidupannya, berbanding terbalik dengan manusia yang membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbon.

Jika oksigen berkurang maka secara otomatis akan mengurangi kualitas udara yang menjadi kebutuhan wajib manusia dalam proses kehidupan. Maka dari itu menjadi wajar jika kebakaran hutan di Riau dan Kalimantan telah menurunkan jauh kualitas udara.

Sudah hutannya habis terbakar, kualitas udara pun makin hancur dengan selimut tebal kabut asap yang sangat menyesakkan pernafasan. Beberapa waktu lalu, angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Pekanbaru dan sekitarnya bahkan sudah menyentuh 3 kali lipat level berbahaya, yakni menembus 800 ISPU. Kualitas udara yang demikian secara umum dapat menyebabkan ancaman kesehatan serius pada populasi masyarakat. Dampaknya bisa iritasi mata, batuk, dahak dan sakit tenggorokan, hingga kegagalan pernafasan dan risiko berbahaya bagi janin ibu yang hamil.

Terlebih lagi, ancaman berikutnya datang dari hama. Menurut Walhi, jika hutan telah rusak maka hama yang berada di pedalaman hutan akan bermigrasi mencari tempat baru. Dampaknya bisa sangat merugikan jika hama itu pindah dan menyerang tanaman petani di sekitar lokasi populasi masyarakat. Jika sudah demikian, kerusakan hutan sudah menimbulkan dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia.

(CAL)

img : greenpeace

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *