Apa Penyebab Turbulensi Pesawat di Indonesia? Begini Penjelasan BMKG

By | 09/05/2016

penyebab-turbulensi

Apa penyebab turbulensi pesawat yang mengakibatkan kecelakaan penumpang yang cukup menghebohkan publik di Indonesia. Kejadian turbulensi pertama menimpa pesawat Etihad rute Abu Dhabi-Jakarta pada Rabu 4 Mei pekan lalu. Sekitar 45 menit sebelum pesawat mendarat di Jakarta, pesawat diterjang gejala turbulensi dalam skala yang cukup parah. Kerasnya guncangan turbulensi pesawat membuat beberapa penumpang yang tak menggunakan sabuk pengaman terlempar ke langit-langit pesawat Etihad. Beberapa penumpang luka-luka, bahkan dilaporkan ada yang sampai patah tulang.

Kemudian hanya berselang beberapa hari, kejadian turbulensi berikutnya terjadi kembali. Kejadian kecelekaan di pesawat ringan akibat turbulensi kedua ini pun masuk dalam skala parah, sampai membuat beberapa penumpang terluka. Kali ini turbulensi hebat di atas langit Indonesia menimpa pesawat Hongkong Airlines rute Bali-Hongkong. Penerbangan CR-6704 Sabtu 7 Mei yang berangkat dari Bali pukul 02.40 dinihari ini pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke Bali ketika sudah sampai di atas langit Kalimantan. Hongkong Airlines ini juga mengalami turbulensi hebat sampai mengakibatkan belasan penumpang termasuk kru terlempar ke langit-langit kabin dan tertimpa barang-barang yang berada di bagasi. Karena keadaan emergency, akhirnya si pilot Hongkong Airlines ini memutuskan untuk Return to Base (RTB).

Publik Indonesia pun bertanya-tanya, bagaimana bisa dua kejadian turbulensi parah ini menimpa dua kali penerbangan di atas langit Indonesia hanya berjarak beberapa hari saja. Apa yang menyebabkan turbulensi ini? Fenomena apa yang sedang terjadi di atas langit Indonesia?

Menyimak ramainya tanda tanya di benak masyarakat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika selaku otoritas terkait urusan cuaca mencoba menjelaskan apa penyebab turbulensi pesawat yang cukup parah ini.

Penjelasan mudahnya, turbulensi dapat diartikan sebagai kondisi dimana pesawat terbang dalam ketinggian jelajah tertentu memasuki ruang udara yang memiliki tekanan yang berbeda-beda. Akibat dari tekanan keras ini, pesawat pun berguncang. Turbulensi sebetulnya adalah hal yang wajar dalam sebuah penerbangan, namun dua kali kejadian turbulensi antara pesawat Etihad dan Hongkong Airlines ini termasuk dalam turbulensi kategori parah.

BMKG menjelaskan, dalam kejadian pertama pesawat Etihad mengalami turbulensi parah di sekitar langit Palembang. Dalam ketinggian jelajah Etihad di 37.000 kaki atau 11.277 meter, Etihad ini diduga mengalami fenomena kombinasi dari gelombang dekat Pegunungan Bukit Barisan di Sumatera bagian selatan dan Awan CB (Cumulonimbus) di sekitar jalur penerbangan Etihad nomor penerbangan EY-474. Penumpukan uap air akibat gelombang dari gunung mendorong tekanan udara secara vertikal, ditambah lagi dengan penumpukan awan CB di sekitar langit Palembang kala itu. Sehingga guncangan keras pun tak bisa dihindari oleh Etihad. Apalagi, jenis turbulensi yang dialami oleh Etihad ini termasuk dalam kategori Clear Air Turbulence (CAT), sehingga tak bisa terdeteksi oleh radar pesawat.

Kemudian pada kejadian kedua, pesawat Hongkong Airlines, diduga turbulensi level parah terjadi karena perbedaan kecepatan angin pada level atas pada level tropopause (ruang udara antara Troposphere dan Stratosphere yang berada di ketinggian antara 23.000-39.000 kaki). Kemudian ditambah pula dengan aktivitas awan CB yang kala itu berkumpul di sekitar tenggara Kalimantan. Serupa dengan apa yang dialami oleh Etihad, kejadian turbulensi kedua ini merupakan fenomena Clear Air Turbulence (CAT) yang tak terdeteksi radar pesawat.

Dalam kesimpulan akhirnya, BMKG mengatakan dua kali fenomena turbulensi parah ini merupakan salah satu imbas dari peralihan musim yang sedang terjadi di Indonesia. Seperti yang diduga sebelumnya, bulan Mei ini adalah periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau panjang. (cal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *