Wakaf Uang, Bagaimana Hukumnya?

By | 29/11/2016

wakaf uang

Wakaf uang seringkali masih menimbulkan kebingungan tersendiri di masyarakat. Masih banyak yang bertanya-tanya mengenai hukum keabsahan dari wakaf uang ini. Wakaf, menurut Abu Hanifah, bermaksud menahan harta di bawah pemiliknya sekaligus memberi manfaat bagi orang di sekitarnya dengan menyediakan sedekah. Selama ini, wakaf lebih dikenal dalam bentuk barang atau properti seperti tanah maupun bangunan. Properti tersebut diwakafkan oleh pemiliknya untuk kepentingan masyarakat banyak sehingga diharapkan dapat membantu berbagai aspek sosial mereka.

Seiring dengan perkembangan zaman, sebagian besar ulama yang berpendapat bahwa wakaf dapat dilakukan dalam bentuk uang. Seorang wakif (pewakaf) dapat menyampaikan amanahnya melalui seseorang atau lembaga nadzir (pengurus wakaf) untuk kemudian digunakan demi kemaslahatan umat sesuai dengan syariat Islam. Amanah dalam bentuk uang tersebut kemudian dapat dikelola secara produktif dalam berbagai macam bentuk seperti sumur, masjid, fasilitas umum lainnya.

Berikut pendapat beberapa ulama mengenai wakaf uang:

Muhammad bin Abdullah Al-Anshori, murid Zufar, sahabat Abu Hanifah
Beliau menyebutkan wakaf boleh dilakukan melalui harta dalam bentuk uang tunai baik dirham atau dinar serta dalam bentuk komoditas yang dapat ditimbang seperti gandum. Dana wakaf yang terkumpul dapat diinvestasikan dengan cara mudharabah dan keuntungannya diputar dengan usaha mudharabah yang hasilnya disedekahkan.

Imam Al Zuhri (w. 124 H)
Beliau berpendapat bahwa wakaf dalam bentuk dinar dan dirham diperbolehkan dengan menjadikannya modal usaha yang keuntungannya disalurkan kepada mauquf ‘alaih (golongan yang berhak menerima zakat).

Komisi Fatwa MUI (11 Mei 2002)
Majelis Ulama Indonesia juga sudah mengeluarkan fatwa mengenai kebolehan wakaf uang. Termasuk dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.

Selain ulama-ulama di atas, masih terdapat banyak lagi ulama dari berbagai mazhab yang mendukung kebolehan wakaf uang. Misalnya, Kitab Al-Majmu’ karya Imam Nawawi yang populer di kalangan pengikut mazhab Imam Malik membolehkan wakaf dalam bentuk tunai. Sementara itu, Murat Cizaka (1998) menyebutkan bahwa wakaf tunai sudah diterima di berbagai negara Islam seperti Turki, Mesir, India, Pakistan, Singapura, Iran, dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri, lembaga nadzir yang memfasilitasi para pewakif untuk menunaikan ibadah wakaf uang sudah mulai bermunculan. Salah satunya adalah Global Wakaf dari Yayasan Aksi Cepat Tanggap yang menawarkan berbagai pilihan wakaf tunai produktif dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Baca juga:  Begini Pahala yang Terus Mengalir dari Wakaf Sumur

Sumber: Eramuslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *