Turki: Enggan Berhubungan dengan Israel selama Gaza Palestina Masih di Blokade

By | 13/01/2016

hubungan-turki-dan-palestina

Dukungan penuh untuk kemerdekaan dan kehidupan yang lebih baik di Palestina bukan lagi sekadar omong kosong. Setelah sebelumnya di bulan Oktober 2015 lalu untuk pertama kalinya dalam sejarah bendera Palestina berkebar mentereng di depan Markas Besar PBB di New York Amerika Serikat, kemudian berlanjut di bulan Januari 2016 ini Vatikan mengakui Palestina sebagai negara berdaulat, kini giliran Turki yang menyatakan ketegasannya atas solusi perdamaian di Palestina.

Dilansir dari CNN, baru-baru ini di awal tahun 2016, Turki mengeluarkan pernyataan resminya terkait dengan kedaulatan Palestina yang tak kunjung usai. Lewat pernyataan dari Juru bicara Kepresidenan Turki Ibrahim Kalin, Turki berkata bahwa negaranya tak akan melakukan hubungan baik dengan Israel sampai Israel betul-betul mencabut blokade jalur perbatasan di Gaza, Palestina. Selain itu, Turki pun meminta tanggung jawab Israel aras tewasnya 10 aktivis asal Turki dalam tragedi penembakan kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara oleh tentara Israel lima tahun silam.

Setidaknya ada 3 syarat yang diajukan oleh Turki pada Israel agar mau menerima kembali normaliasasi hubungan baik dengan Israel.

Pertama, Turki menuntut Israel untuk meminta maaf atas tragedi penembakan kapal Mavi Marmara 5 tahun silam. Kala itu kapal yang mengangkut bantuan kemanusiaan dari komunitas negara-negara dunia ditembaki oleh rudal dan peluru tajam secara brutal oleh tentara Israel ketika Mavi Marmara hendak bersandar di pinggiran pantai Gaza, Palestina.

Kedua, Turki menuntut adanya dana kompensasi yang diserahkan langsung pemerintah Israel pada seluruh keluarga korban yang tewas akibat serangan brutal Kapa; Mavi Marmara. Dilansir CNN, nilainya mencapai sekitar US$ 20 Juta.

Ketiga, Turki menuntut pada militer Israel yang berada di sekeliling Gaza untuk membuka selebar-lebarnya blokade total Israel atas Gaza Palestina. Sebab, selama ini bantuan kemanusiaan masyarakat dunia harus tertahan di Turki atau Mesir selama berbulan-bulan akibat blokade total dari militer Israel atas Gaza. Bahkan bantuan makanan dan kebutuhan primer lainnya seringkali dipasok lewat jaringan bawah tanah yang sengaja di gali oleh warga Gaza sejauh puluhan kilometer agar bisa menembus barisan blokade tentara Israel, tujuannya satu: mendistribusikan bantuan makanan dan kebutuhan primer lainnya secara “ilegal”.

Sebelumnya, selama bertahun-tahun Israel berdalih blokade Gaza yang berbatasan dengan Mesir diperlukan untuk mencegah penyelundupan senjata oleh militan Palestina. Namun alasan Israel itu tak masuk akal. Malahan akibat blokade Israel, 1,8 juta populasi penduduk Gaza menderita gizi buruk dan terancam kelaparan karena bahan makanan sulit untuk menembus barisan blokade. Serangan Israel juga sudah membuat wajah Gaza porak poranda serta tak terhitung lagi berapa ribu jiwa yang sudah tewas. (cal)

img: aljazeera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *