Strategi Upaya Penanggulangan Kekeringan

By | 15/07/2016

penanggulangan-kekeringan

Bencana kekeringan di Indonesia menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang dua abad terakhir, yaitu sejak 1811 hingga 2011, kekeringan menjadi bencana terbesar ketiga setelah bencana banjir dan kebakaran. Ini tandanya harus ada perhatian terhadap penanggulangan kekeringan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dearah bencana kekeringan yang parah yaitu di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa.

Ada dua perubhahan iklim dunia selama 30 tahun terakhir, yaitu La Nina dan El Nino. Indonesia berada pada belahan bumi dengan iklim monsoon tropis yang sangat sensitif terhadap anomali iklim El-Nino Southern Oscillation (ENSO) yang menjadi sumber kekeringan. Ada beberapa daerah yang jarang diguyur hujan sehingga berdampak kekeringan.

Nusa Tenggara Timur menjadi daerah yang paling menyedihkan akibat kekeringan, bahkan menurut laporan BNPB saat kemarau panjang belum mampu memberikan pasokan yang cukup. Kemudian beberapa daerah di jawa mengalami kekeringan parah yang menghambat perekonomian masyarakat petani. Kerena itulah perlu upaya penanggulangan kekeringan yang berkelanjutan meliputi:

1. Gerakan masyarakat melalui penyuluhan
Pada umumnya masalah kekeringan melanda di pedesaan dengan kondisi masyarakat yang kurang mengerti tentan pengetahuan mengelola sumber daya air. Dengan adanya penyuluhan masyarakat akan mentransfer ilmu bagaimana mengoptimalkan lahan kering. Salah satunya yang telah berhasil adalah di daerah Gunungkidul Yogyakarta, yang mana dahalu daerah tandus sekarang sudah lebih baik kondisi air tanahnya.

2. Membangun/rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi
Jaringan irigasi yang tak dipelihara dengan baik akan selalu kering saat musim kemarau. Upaya pembangunan bendungan dan waduk adalah salah satu upaya yang bisa menanmpung air sungai pada saat musim hujan.

3. Pembangunan sumur
Membangun sumur adalah hal yang sulit dilakukan oleh masyarakat dengan kategori perekonomian rendah. Terlebih di daerah kekeringan mereka tak berani asal membangun, karena deteksi air tanah belum canggih. Biaya menjadi faktor tak adanya sumur sebagai sumber air di desa-desa kering seperti ini. Mereka masih mengandalkan sumber air yang jaraknya sangat jauh, bahkan rela tidak mandi berhari-hari karena krisis air.

Minimnya akses akomodasi ke wilayah-wilayah kekeringan di Indonesia menjadi faktor sulitnya penanggulangan kekeringan. Masalah kekeringan ini bagi pemerintah tentunya harus ada program untuk menyelamatkan masyarakat dari krisis air.

Namun ada hal yang tepat dan cepat supaya bisa memberi harapan air bersih, seperti program wakaf sumur yang dilakukan oleh lembaga Aksi Cepat Tanggap untuk membantu wilayah-wilayah yang sulit mendapatkan akses air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *