Solusi Krisis di Gaza, Tak Hanya Butuh Bantuan Kemanusiaan

By | 11/05/2016

solusi-krisis-gaza

Jika menyebut nama Gaza, bisa dipastikan akan ada banyak masyarakat di Indonesia yang mengetahui atau minimal mengenali bagaimana kondisi di Gaza saat ini. Gaza Palestina sudah belasan tahun bahkan hitungan dekade terakhir berada dalam “penjajahan” pemerintah Israel. Israel tetap enggan dan malah makin alot untuk melegalkan dan mengakui Palestina sebagai sebuah negara, termasuk bagian wilayah Gaza di dalamnya. Namun hingga kini, krisis di Gaza tetap berlangsung tanpa ada tanda-tanda akan segera berakhir. Padahal, negara-negara Islam gabungan OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) termasuk Indonesia yang punya kekuatan besar di ranah internasional sudah menyatakan dukungan penuhnya terhadap kemerdekaan Palestina. Akan tetapi, sampai hari ini Gaza tetap menjadi salah satu tempat yang terkepung, tertutup oleh tembok tinggi dan tebal yang dibangun oleh Israel.

Lantas adakah solusi untuk krisis di Gaza?

Mengutip dari laporan sejumlah media internasional, Pejabat Senior dari PBB, Direktur Operasi UNRWA di Jalur Gaza, Bo Schack pada Selasa 10 Mei 2016 kemarin menyatakan bahwa kunci untuk melepaskan Gaza dari krisis bukan tentang bantuan kemanusiaan saja. Seperti yang sudah terjadi selama ini, Gaza jadi pusat dari banyak distribusi kemanusiaan global yang dihimpun oleh masyarakat dunia untuk membangun Kota Gaza dan memastikan warga Gaza tetap terjamin.

Menurut Pejabat Senior dari PBB ini, Gaza tak selamanya membutuhkan bantuan kemanusiaan saja. Harus ada upaya lebih dari itu untuk menuntaskan masalah krisis di Gaza dalam waktu yang bisa diprediksi. Solusi atas krisis di Gaza yang paling mendesak adalah urusan penyelesaian politik. Hanya dengan kesepakatan politik yang kuat bisa menghentikan semua blokade buruk dari Israel.

Sejak tahun 2007 lalu, blokade total dari pemerintah Israel di Gaza ini memang sudah membuat Gaza terisolasi total dari dunia luar.

Sampai dengan hari ini, di Jalur Gaza ada sebanyak 1,9 juta jiwa warga sipil Gaza yang hidup tertekan di bawah blokade total militer Israel. Alih-alih mendapatkan makanan yang layak, bahkan untuk memperoleh aliran listrik dan bahan bakar yang digunakan sehari-hari pun warga Gaza harus “mengemis” dna membayar sejumlah uang pada pemerintah Israel.

Puncak dari kekejaman di Gaza ini terjadi dua tahun lalu. Tahun 2014 kemarin, militer Israel melemparkan senjata berat dari menyasar langsung ke semua sudut Gaza. Serangan kejam selama 7 minggu sejak 8 Juli sampai 26 Agustus 2014 ini sampai menewaskan tak kurang dari 2.251 jiwa.

Selain kebutuhan pendudukan dan klinik yang mendesak di Gaza, kini Gaza hanya butuh penyelesaian konflik dengan jalur diplomasi politik yang kuat. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah mengingatkan bahwa dalam waktu dekat Israel tidak akan ragu untuk menghantam Jalur Gaza dalam misinya untuk melenyapkan terowongan Hamas. (cal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *