Pasca Gempa Mentawai Ternyata 20 Persen Sirine Tsunami di Sumatera Barat Rusak

By | 07/03/2016

sirine tsunami

Kejadian gempa Mentawai di awal Maret 2016 berimpak banyak pada kesiapsiagaan gempa negeri ini. Pasalnya banyak pelajaran berharga yang akhirnya terkuak setelah kejadian gempa “Mentawai”, yang pada dasarnya terjadi di Samudera Hindia, sehingga lebih tepat jika disebut sebagai gempa Samudera Hindia, alih-alih gempa Mentawai.

Selain menyadarkan banyak stakeholder di Indonesia tentang mirisnya kondisi kesiapsiagaan bencana gempa di Indonesia, gempa Samudera Hindia atau gempa Mentawai beberapa waktu lalu juga menguak satu fakta tentang status alat-alat pencegahan risiko gempa dan tsunami yang tersedia di Indonesia.

Seperti yang dikabarkan laman Tempo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan bahwa kini kondisi alat-alat pencegahan risiko bencana gempa dan tsunami banyak rusak. Misalnya saja, ada 20 persen dari 103 jumlah sirine tsunami tercatat dalam kondisi tak terawat dan rusak tak bisa berfungsi sama sekali.

Padahal sirine tsunami itu adalah alat utama yang digunakan untuk mengabarkan peringatan dini tsunami, khususnya di wilayah yang sangat berpotensi tsunami, seperti di pesisir barat pantai Sumatera.

Akibatnya, kerusakan sirine peringatan dini tsunami ini pun membuat sebagian besar masyarakat Sumatera Barat tak bisa mendengar tanda peringatan sirine yang mengaung-ngaung ketika terjadi risiko tsunami, sesaat setelah gempa besar.

Contohnya, ketika gempa besar mengguncang Samudera Hindia dekat dengan Mentawai beberapa waktu lalu, banyak masyarakat Sumatera Barat yang mengakui tak mendengar sama sekali sirine peringatan tsunami. Padahal saat itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika merilis pernyataan bahaya tsunami sesaat setelah gempa berguncang 7,8 Skala Richter, 805km dari Kota Padang.

Untuk diketahui, sejak beberapa kali kejadian gempa besar di pesisir barat Sumatera, sirine tsunami yang mengingatkan tentang status siaga peringatan dini tsunami terdapat di sejumlah titik, meliputi Mentawai, Sumatera Barat; Nias, Sumatera Utara; Singkil, Aceh; dan Bengkulu Utara.

Untuk Sumatera Barat sendiri, total ada 103 jumlah sirine tsunami yang tersedia, namun seperlima dari jumlah sirine tersebut rusak. Misalnya seperti sirine siaga tsunami yang tersedia di Kabupaten Agam. Dari delapan sirene di Agam, yang berfungsi hanya enam. Kemudian ada pula sirine tsunami Di Kabupaten Pesisir Selatan, ada delapan sirene, tapi hari ini yang berfungsi hanya empat.

Jika dihitung-hitung, Kepala Pusat Data dan Humas Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan bahwa Indonesia setidaknya butuh sebanyak 1.000 sirene untuk peringatan dini gempa besar dan potensi tsunami di seluruh Indonesia. Kira-kira satu sirine tsunami yang dihubungkan sistem satelit dengan database BNPB dan alat pendetesi tsunami di lautan lepas berharga Rp. 100 juta. (cal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *