Satu lagi Senyum Ceria Kampung Lebak: Jembatan “Sabukit” Sukses Hubungkan Dua Desa Terpencil

By | 08/12/2015

anak-sekolah-ceria-lewati-jembatan-baru-1

Beberapa tahun silam, masyarakat Indonesia sempat ramai dengan perbincangan ironis sekaligus miris tentang jembatan gantung tua hampir rubuh yang terpaksa masih dilalui oleh anak-anak sekolah demi mencapai sekolahnya? padahal di bawah jembatan butut itu mengalir sungai yang deras dan tebing yang dalamnya lebih dari 10 meter. Kenyataan pahit itu pun semakin ironis pasalnya lokasi jembatan gantung “maut” itu hanya terpaut jarak tak kurang dari 100 kilometer dari Ibukota Jakarta. Bahkan jika dilihat dari peta, jaraknya teramat dekat dari Jakarta.

Nyatanya memang kejadian mirisnya infrastruktur itu terjadi di provinsi sebelah Jakarta, yakni Provinsi Banten, tepatnya di Kabupaten Lebak. Salah satu Kabupaten termiskin di Pulau Jawa.

Berdasarkan data yang dilansir dari laman Antaranews, di Kabupaten Lebak kini terdapat 109 jembatan gantung yang mengalami rusak berat. Kenyataan ini pun dibenarkan oleh Bupati Lebak Octavia Jayabaya yang mengakui memang di daerah yang dipimpinnya masih berada dalam keterbelakangan infrastruktur. Terutama infrastruktur jembatan karena memang banyak desa terpencil yang wilayahnya berbatasan dengan sungai lebar dan jurang dalam.

Merespon fenomena keterbatasan infrastruktur itu Aksi Cepat Tanggap (ACT) menginisiasi untuk menggalang kemitraan dengan berbagai elemen. Membantu warga Lebak mendapatkan sarana jembatan yang memadai. Hasilnya, salah satu mitra ACT, Komunitas Sedekah Brutal, bergabung dalam pembangunan jembatan di Kabupaten Lebak.

Selama lebih dari sebulan ACT telah menuntaskan pembangunan jembatan kokoh berbahan cor semen beton dan besi baja siku yang menyambungkan akses dari Kampung Sanding ke Kampung Bubur, Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak.

anak-sekolah-ceria-lewati-jembatan-baru

“Alhamdulillah pembangunan sudah selesai, proses pembangunan diselesaikan 27 November sampai 2 Desember 2015. InsyaAllah satu pekan lagi akan kita resmikan,” jelas Ahmad Rifai, Koordinator Pembangunan Jembatan dari ACT.

Busro, Kepala Desa (Kades) Sindangsari pun mengucap syukur dengan selesainya pembangunan jembatan ini. Menurutnya pembangunan jembatan ini sangat membantu warga dua kampung di desanya. Tahun 1970 pernah dibangun jembatan di lokasi yang sama, namun, kondisinya sudah rusak berat dan tak layak dilintasi. Padahal jembatan itu adalah jalur utama penghubung utama dua desa, lintasan utama ekonomi dan pendidikan warga di dua kampung itu.

“Warga jelas sangat senang dan bangga dibangunkan jembatan yang kokoh, ini salah satu bentuk kebangkitan warga Desa Sindangsari yang terus berikhtiar. Bersama perangkat Desa, warga, dan berkat silaturrahmi dengan ACT, akhirnya terlaksana pembangunan jembatan ini ,”ujar Busro penuh haru.

Busro pun menambahkan jembatan ini bernama “Sabukit” singkatan dari Sanding dan Bubur; bangkit (Desa Sanding dan Desa Bubur). Ia berharap pembangunan ini menjadi awal kebangkitan dua kampung di desanya, di masa kepemimpinannya yang baru menjabat menjadi Kades selama beberapa bulan ini. (cal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *