Kisah Penyelundup Bayaran, Sukses Kirim Pengungsi Suriah Ke Pulau Lesbos Yunani

By | 21/03/2016

Pengungsi Suriah

Hanya ada dua kisah nasib pengungsi Suriah yang kini menghabiskan sisa waktunya di kamp pengungsian di Turki. Pertama, mengikuti aturan imigrasi yang berlaku dan pindah ke Eropa secara legal dan terdaftar sebagai pengungsi. Atau nasib kedua memilih jalur cepat dengan membayar uang ke penyelundup manusia untuk masuk ke tanah Eropa secara ilegal. Kedua pilihan hidup inilah yang kini sedang betul-betul menjadi dilema bagi ratusan ribu bahkan jutaan pengungsi Suriah di Turki.

Sebagai korban perang Suriah yang entah kapan akan usai, jutaan pengungsi Suriah di Turki ini hanya menginginkan kehidupan yang menurut mereka akan berubah jadi lebih baik di Eropa. Harapan akan ekonomi yang lebih bagus, pendidikan yang lebih terjamin, serta jaminan sosial memaksa mereka menghalalkan segara cara untuk masuk ke tanah Eropa. Termasuk dengan masuk ke Eropa sebagai imigran ilegal tanpa dokumen resmi sama sekali. Mereka rela membayar sejumlah uang yang tak sedikit pada jaringan penyelundup manusia.

Padahal belum lama ini, Turki dan Uni Eropa baru saja menyepakati aturan baru tentang pengungsi. Uni Eropa dan Turki sepakat untuk mengembalikan pengungsi Suriah yang ketahuan ilegal untuk kembali ke Turki. Dan sebagai gantinya Uni Eropa berjanji akan menerima ribuan pengungsi Suriah baru yang masuk ke Eropa lewat jalur legal.

Keuntungan bagi Turki, Uni Eropa juga menjanjikan sejumlah suntikan dana bagi Turki untuk mengurus kehidupan pengungsi Suriah di kamp pengungsian. Serta memberikan Turki keuntungan baru dengan kemudahan proses pengajuan Turki sebagai anggota negara-negara di Uni Eropa.

Namun, kesepakatan Turki dan Uni Eropa ini nyatanya hanya berlaku di atas kertas. Sebab jaringan penyelundup manusia masih berkeliaran di kamp pengungsian Suriah di Turki. Menawarkan jasanya secara cepat untuk mengirimkan pengungsi Suriah secara cepat ke Yunani, gerbang masuk Eropa.

Seperti laporan dari Reuters, Minggu, 20 Maret 2016 kemarin sekitar 50 orang pengungsi asal Suriah nampak melambaikan tangan, bersorak, dan tersenyum gembira ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Pulau Lesbos, Yunani. 50 orang pengungsi Suriah yang diangkut menggunakan perahu karet bermotor itu adalah gelombang pertama yang masuk ke Pulau Lesbos secara ilegal sejak kesepakatan Uni Eropa dan Turki diberlakukan dengan menutup perbatasan laut Aegean sebagai gerbang menuju Yunani.

Namun kenyataannya, jalur distribusi penyelundup manusia dari Turki menuju Yunani jelas lebih licin. Mereka punya beragam cara untuk menyelundupkan manusia secara ilegal ke Eropa. Tentu dengan bayaran yang mahal.

Mengutip dari Reuters, seorang pengungsi Suriah yang merapat ke pantai sebelah selatan dari Pulau Lesbos ini adalah adalah warga Suriah bernama Hussein Ali Muhammed. Ia adalah anak muda asal Suriah yang mengaku sudah sangat muak berada di kamp pengungsian di Turki. Ia pun tak mau untuk kembali lagi ke negaranya Suriah yang sudah hancur dihantam perang.

Muhammed mengaku bekerja keras siang malam di Turki untuk mengumpulkan uang yang jumlahnya tak sedikit. Uang tersebut digunakannya untuk membayar penyelundup manusia yang mengantarkannya lewat jalur tikus menghindari petugas dari Turki menuju Pulau Lesbos, Yunani. Muhammed rela menempuh jalur ilegal ini sebab Ia mengatakan cara membayar penyelundup adalah cara tercepat daripada harus mengurus visa dan surat izin ke pemerintah Turki sebagai pengungsi Suriah.

Ia kini sedang menantikan kepergiannya ke Denmark agar bisa melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi di Denmark, semua dilakukannya demi kehidupan yang lebih baik. Muhammed berkata, biarlah negaranya hancur karena perang, yang penting masa depannya sebagai anak korban perang Suriah tak boleh ikut hancur. Ia harus berjuang sendirian sebagai anak sebatang kara, sebab orang tuanya menghilang tak tahu rimbanya setelah meletus perang di Suriah 5 tahun lalu. (cal)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *