Pahami Lebih Jauh 4 Rukun Wakaf

By | 10/10/2015

Wakaf

Wakaf, mendengar kata itu mungkin saja tak semua muslim di Indonesia dapat memahami secara utuh dan jelas. Kenyataannya memang wakaf tak setenar amalan berbagi kepada sesama seperti zakat, sedekah, dan berqurban. Namun bukan berarti amalan wakaf tak seimbang ganjarannya dengan bentuk amalan sedekah lainnya. Malah justru melalui wakaf, selama ribuan tahun Islam berkembang menjadi agama dan kebudayaan yang kuat dengan pembangunan yang masif adalah karena kekuatan wakaf.

Wakaf adalah penggerak ekonomi umat dalam skala yang besar. Maka dari itu, mengapa kita masih menunda untuk berwakaf?

Sebelum lebih jauh menunaikan amalan wakaf, sebaiknya pahami lebih dulu rukun dan syarat wakaf. Karena apapun bentuk wakafnya, wakaf akan sah apabila telah terpenuhi rukun dan syaratnya. Berikut adalah penjelasan tentang 4 rukun wakaf:

  1. Wakif atau orang yang mewakafkan hartanya

Wakif menjadi rukun wakaf pertama, Islam menekankan secara detail tentang syarat-syarat seorang wakif. Mulai dari merdeka, berakal sehat, dewasa atau baligh dan tidak sedang berada dalam pengampuan atau tanggungan orang lain (orang tua/wali). Keberadaan wakif yang memenuhi syarat dalam sebuah niat atau transaksi wakaf adalah mutlak harus dipenuhi seutuhnya. Kesepakatan bisa terjadi dan sah hukumnya antara wakif dan penerima wakaf apabila rukun pertama ini dipenuhi.

  1. Mauquf Bih atau barang dan harta yang diwakafkan

Rukun kedua ini mengandung arti adalah harta yang diwakafkan harus memenuhi syarat. Tidak sah suatu kesepakatan wakaf apabila harta yang diwakafkan tidak mengandung manfaat dan bukan termasuk harta yang dimiliki (rumah sewaan, kontrak, dll). Lalu harta yang akan diwakafkan pun menjadi tidak sah apabila barang yang akan diwakafkan tidak diketahui jumlah pastinya, misalnya mewakafkan sebagian tanah yang dimiliki namun tak mengetahui pasti berapa kadar “sebagian” itu. Hal ini untuk mencegah terjadinya sengketa di kemudian hari, yang dapat menghambat pengembangan harta wakaf.

  1. Mauquf ‘Alaih (tujuan wakaf)

Rukun keempat adalah wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang sesuai dengan syariat Islam. Pada dasarnya wakaf adalah amalan yang ditunaikan untuk mendekatkan diri antara Manusia kepada Allah. Menurut Mazhab Syafii yang banyak digunakan di Indonesia, mauquf ‘alaih adalah ibadah menurut pandangan Islam saja, tanpa memandang keyakinan wakif. Karena itu sah wakaf muslim dan non muslim kepada badan-badan sosial seperti penampungan, tempat peristirahatan, badan kebajikan dalam Islam seperti masjid. Dan tidak sah wakaf muslim dan non muslim kepada badan-badan sosial yang tidak sejalan dengan Islam seperti Gereja.

  1. Sigat (pernyataan atau ikrar wakaf sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan sebagian harta bendanya)

Rukun wakaf yang terakhir adalah sigat, Sigat adalah segala ucapan, tulisan, atau isyarat dari orang yang berakad untuk menyatakan kehendak dan menjelaskan apa yang diinginkannya. Status Sigat (pernyataan), secara umum adalah salah satu rukun wakaf. Wakaf tidak sah tanpa sigat, setiap sigat mengandung ijab dan mungkin mengandung qabul pula.

Dasar (dalil) perlunya Sigat (pernyataan) ialah karena wakaf adalah melepaskan hak milik dan benda dan manfaat atau dari manfaat saja dan memiliki kepada yang lain, maksud tujuan melepaskan dan memilikkan adalah urusan hati. Tidak ada yang menyelami isi hati orang lain secara jelas, kecuali melalui pernyataan sendiri. (cal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *