Menyapa Gaza Palestina di Ramadhan 1436 H

By | 26/06/2015

Tak selamanya ramadhan di belahan bumi manapun di dunia ini membawa cerita dan kisah bahagia. Bagi sebagian besar muslim di tanah air, setidaknya patut bersyukur bahwa tanah Indonesia yang amat dibanggakan ini jauh dari teror, konflik, dan permusuhan yang menyebabkan krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Berbeda dengan kenyataan yang harus diterima oleh ribuan jamaah muslim yang masih setia menjaga tanah leluhur mereka di Gaza, Palestina. Kini, Ramadhan 1436 H jamaah Palestina masih melaksanakan shalat tarawih mereka di tenda-tenda darurat yang didirikan persis di sekitar area reruntuhan masjid. Reruntuhan masjid yang dibom dan dihancurkan oleh pasukan zionis Israel selama 51 hari agresi Israel di Gaza satu tahun lalu.

Di tiga garis batas Palestina: Jalur Gaza, Kota Al-Quds dan West Point atau Tepi Barat, jutaan keluarga muslim Palestina melaksanakan ibadah ramadhan 1436 H dengan kehidupan yang jauh dari layak, namun ancaman kesengsaraan akibat kekejaman tentara zionis Israel tak menyurutkan niat dan tekad meraka untuk tetap bertahan.

Sudah hampir menjelang 9 tahun Jalur Gaza dikepung, dipantau 24 jam penuh dengan senjata kelas berat dari tentara Israel. Kehidupan ekonomi masyarakatnya diembargo. Sekitar 1.8 juta jiwa penduduknya dikurung dan diawasi setiap gerak geriknya dalam penjara raksasa berbentuk Kota mati Gaza, 365 kilometer persegi luasnya.

Tepat setahun yang lalu di mana rombongan tentara Israel dibawah kendali pemerintahan zionis melancarkan serangannya membabi buta ke seluruh penjuru Gaza. Bantuan dunia pun seketika mengalir. Kini, Gaza adalah sebentuk kota dengan naungan kemanusian yang terus berdatangan mencoba menembus garis tembok pembatas yang dibangun oleh tentara Israel di segala penjuru Gaza.

Menjelang satu minggu pelaksanaan Ramadhan 1436 H, ada secuil kabar gembira dari Gaza terkait progress bantuan kemanusiaan berupa Sekolah Disabilitas Gaza hasil sinergi dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), Akhwat bergerak dan Save Gaza Project. Berdasarkan laporan yang diterima, sekolah disabilitas satu-satunya yang berada di Gaza itu pembangunannya sudah memasuki tahap akhir berkat donasi yang luar biasa dari rakyat Indonesia yang dihimpun oleh Akhwat Bergeak dan ACT.

Sekolah Disabilitas Gaza yang dibangun Indonesia di tanah Palestina tersebut sejatinya merupakan sekolah pengganti yang dibangun ulang setelah setahun lalu, tepat di kala bulan ramadhan pula sSekolah Disabilitas Gaza ini luluh lantak dibombardir oleh tentara zionis Israel.

Sekolah yang akan dikhususkan bagi anak-anak istimewa ini direncanakan akan usai dibangun pada penghujung ramadhan nanti. InsyaAllah luasan sekolah sebesar 350 meter mampu menampung sebanyak 140 orang anak-anak istimewa yang berkebutuhan khusus. Selama satu tahun terakhir sejak Ramadhan tahun lalu Gaza di bombardir oleh Israel, anak-anak di Gaza terpaksa bersekolah dan belajar bersama di bawah naungan tenda pengungsian sementara yang hanya bisa melindungi dari panas dan hujan secukupnya. s

Pembangunan kembali infrastruktur di Gaza memang masih berada dalam tahapan awal. Namun sedikit sapaan dari Gaza yang membawa kabar gembira tentang Sekolah Disabilitas Gaza setidaknya telah membawa rasa senang dan haru.

Derita mereka adalah duka kita, Ramadhan adalah momentum terindah untuk menyantuni dan menyelamatkan air mata duka saudara muslimin di seluruh dunia.

Hapus duka mereka adalah ladang pahala bagi kita, InsyaAllah akan bahagiakan akhirat kita. (CAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *