Menimbang Muslim Rohingya Sebagai Penerima Zakat, Infaq, dan Sedekah

By | 11/06/2015

Rohingya

Sudah hampir sebulan sejak pertama kali gelombang pengungsi “manusia kapal” Rohingya merapatkan perahunya di dermaga wilayah Langsa, Aceh. Sejak saat itu, beragam bantuan kemanusiaan nasional dan internasional pun serentak mengalir ke ribuan pengungsi Rohingya.

Kondisi memilukan memang terasa nyata jika membayangkan bagaimana kondisi kaum Rohingya sejak pertama kali melarikan diri dari tanah tempat mereka berpijak di Rakhine. Dari Rakhine yang kejam dan penuh intimidasi tak mengenal kemanusiaan, gelombang krisis pengungsi muslim ini pun menyabung nyawa melintasi Samudera. Tanah Kuala Lumpur dan Indonesia adalah tujuan mereka. Tak peduli bagaimana kondisi di luar batas kemanusiaan yang mereka alami selama mengarungi lautan, mereka tetap dalam pada satu tujuan, keluar dari Rakhine dan mengharap belas kasih dari komunitas masyarakat di Indonesia maupun Kuala Lumpur, Malaysia.

Menyandang status sebagai etnis pengungsi, ribuan komunitas Rohingya jelas merupakan kaum marjinal yang jauh dari fasilitas-fasilitasnya yang selayaknya disediakan oleh negara. Di Myanmar mereka adalah komunitas terbuang, terpojokkan dari hingar bingar masyarakat asli Myanmar. Kini setelah melarikan diri dari Rakhine, mereka pun masih berstatus serupa, tak memiliki harta sama sekali, tak berstatus sebagai warga negara manapun.

Oleh sebab itu, terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan, masih butuh kan pemikiran lebih dalam tentang hak ribuan etnis Rohingya untuk mendapatkan zakat, infak, dan sedekah?

Sekretaris Jenderal World Zakat Forum, Ahmad Juwaini seperti yang dilansir oleh portal Antaranews menegaskan bahwa Rohingya jelas memenuhi syarat sebagai penerima manfaat atas zakat, infak, dan sedekah.

Kondisi memilukan yang dialami oleh ribuan komunitas Rohingya yang tersebar tak hanya di Aceh, namun juga di pos pengungsian Kuala Lumpur maupun Thailand menjadi penegasan yang rasanya tak mungkin lagi dielak.

Tak hanya lembaga zakat dan lembaga kemanusiaan lokal maupun dunia yang harus menggerakkan prioritasnya pada etnis Rohingya. Harapannya kasus Rohingya di awal bulan Ramadhan ini dapat menjadi salah satu tujuan zakat, infak dan sedekah bagi segenap umat muslim Indonesia.

Atensi khusus dari lembaga multilateral ASEAN, PBB, dan OKI pun seharusnya diperlukan untuk bersama membantu memikirkan solusi terbaik bagi jalan keluar konflik Myanmar dan Rohingya. Patut ditegaskan bahwa kasus kemanusiaan Rohingnya tak hanya tanggung jawab Indonesia dan Malaysia semata, namun juga menjadi pelecut kemanusiaan bersama untuk membangkitkan lagi nurani kemanusiaan yang makin tergerus oleh derasnya arus komersialisme dan konsumerisme materi dekade ini. (CAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *