Melihat Pendidikan Anak-Anak Gaza di Tengah Kepungan Tembok Israel

By | 26/01/2016

sekolah anak palestina

Selama bertahun-tahun, warga Gaza tak bisa melawan, kekuatan tangan kosong dan “senjata” sebatas ketapel dari mereka tak bisa melawan keangkuhan dari militer Israel yang bersenjata. Ratusan hingga ribuan tentara Israel bertahun-tahun mengepung Gaza. Tak cukup hanya itu, sebuah tembok besar dibangun oleh Israel untuk mengepung Gaza, membuat kehidupan di Gaza bagaikan di dalam penjara raksasa.

Namun kepungan Israel tak pernah membuat penduduk Gaza kehilangan semangat, tak pernah membuat anak-anak Gaza enggan untuk mengenyam pendidikan. Seperti kisah yang dikutip dari laman act.id berikut:

Kebahagiaan membuncah di wajah Yahya, Mohammad, Nassar serta teman-teman mereka di Al-Salah Charity School, Gaza, Palestina. Apa sebab anak-anak yatim Palestina itu bergembira?

Sebuah ruangan nampak tertata apik bersama komputer tablet di atas meja, menjadikan ruangan itu sumber kegembiraan mereka. Sebuah Laboratorium Bahasa Inggris yang sangat representatif telah dibangun untuk mereka.

Laboratorium tersebut dibangun atas sponsorship perusahaan kosmetik terkemuka Tanah Air, Wardah bekerjasama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) the Movie.

Di bangun di kota Deir Al Balah, al-Salah Charity School merupakan sekolah yang memberikan pendidikan berkualitas kepada anak-anak yatim dengan tanpa dipungut biaya. Sekolah ini mempunyai sekitar 600 siswa dan mereka belum mempunyai Laboratorium Bahasa Inggris.

“Nama saya Yahiya Alsaqs, saya bersekolah di al-Salah Charity School, di kelas tujuh. Saya sangat menyukai sekolah saya karena mereka mengurus kami dengan baik, dan memberikan pendidikan terbaik kepada kami para anak yatim. Ketika saya tahu bahwa kami akan mempunyai laboratorium Bahasa Inggris di sekolah kami, saya sangat berbahagia karena saya sangat ingin meningkatkan kemampuan bahasa saya. Saya terima kasih kepada ACT, Wardah, dan KMGP The Movie. Kami sayang kalian,” ucap Yahiya, 13 tahun, seorang bocah Palestina berasal dari Khan Younis.

Mohammad Awni Nassar, pelajar berusia 15 tahun, juga mengungkapkan kebahagiaan yang sama. Ia sangat berbahagia atas terwujudnya cita-cita Laboratorium Bahasa Inggris yang sudah terwujud di sekolah mereka, Awni Nassar diketahui punya ketertarikan yang begitu besar pada bahasa Inggris. Ia pun dikenal oleh teman-temannya mahir berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Ia ingin menceritakan kepada dunia, apa yang mereka alami di Gaza.

Program ini melengkapi rangkaian Program Peduli Pendidikan anak Gaza yang telah berjalan sebelumnya. Atas donasi dari Wardah, bekerjasama dengan ACT dan KMGP The Movie, terlaksana beberapa jenis program bertemakan pendidikan pada akhir tahun 2015 lalu.

Selain bangunan sekolah permanen, ada pula penyediaan generator untuk persediaan suplai listrik di beberapa sekolah, pengadaan peralatan laboratorium fisika, kimia, elektronika, komputer, dan Bahasa Inggris, juga distribusi ratusan paket peralatan sekolah. (cal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *