Kondisi Bulan Ramadhan di Gaza Palestina

By | 09/06/2016

Ramadhan di Gaza
Ramadhan merupakan bulannya umat Islam dimana menjadi bulan yang seharusnya membuat bahagia, meningkatkan amalan. Namun bagaimana dengan kondisi bulan Ramadhan di Gaza Palestina? negara yang masih dalam tekanan Israel ini tak bisa banyak merasakan damai di bulan Ramadhan. Muslim di Gaza selalu menjadi perhatian bagi sebagian warga muslim di Indonesia yang mempunyai hubungan dan kepedulian.

Kenyataan pahit bahwa bahagia itu kenyataannya tak semuanya dirasakan oleh jutaan jiwa warga Gaza, Palestina. Ramadhan tahun ini tak jauh berbeda dengan hitungan hari-hari Ramadhan di tahun sebelumnya. Denyut ekonomi Gaza semakin jatuh terperosok.

Kondisi Ekonomi di Gaza semakin terpuruk. Ketika saat ramadhan banyak yang berebelanja untuk mempersiapkan makanan sahur dan berbuka, seperti yang terlihat di Indonesia. Salah satu pasar umum Az-Zawya di tengah Kota Gaza tampak ramai warga menyiapkan bahan makanan jelang waktu berbuka puasa, namun perputaran ekonomi itu berlangsung sangat lambat. Fayez Al-Bitar, seorang pedagang buah di pasar mengeluhkan daya beli masyarakat Gaza yang semakin lemah. Setiap tahunnya, jumlah permintaan barang-barang di Gaza terus menyusut.

Fayes menjadi contoh nyata keterpurukan ekonomi di Gaza. Di hari pertama Ramadhan di Gaza, produk makanan seperti kurma, susu, dan buah-buahan segar lainnya banyak yang berujung di tempat sampah, membusuk karena terlalu lama menunggu pembeli. Angka pengangguran semakin meningkat, kemiskinan dan kemelaratan di tiap sudut Kota Gaza, kawasan sempit berpenghuni 2 juta jiwa yang dihimpit dan ditekan oleh Israel.

Ini salah satu fakta betapa menedritanya warga Gaza di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Kondisi mereka serba sulit dan semakin mendapat tekanan dari Israel. Tahun ini tepat satu dekade ekonomi Gaza jatuh terjerembab karena blokade dari Israel. Sejak tahun 2006 silam, Israel menuduh bahwa Gaza adalah kawasan musuh, kantong Palestina yang berisi organisasi Hamas. Dengan dalih itu, Gaza pun dikepung di semua sisinya. Gerbang tinggi dan penjagaan super ketat dari militer Israel berlaku di setiap penjuru Gaza. Listrik pun hanya beberapa jam saja. Terkadang di malam hari listrik sengaja dimatikan. Satu juta warga sipil Gaza merana dalam “penjara” terbesar di dunia.

Terkadang bantuan makanan dan obat-obatan dari berbagai lembaga kemanusian di Indonesia hanya cukup membuat mereka tersenyum sesaat, namun itu sungguh berarti untuk memberikan harapan hidup mereka. Sangat sulit memang, tetapi mereka tak putus asa berjuang untuk hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *