Ketika Gunung Marapi di Sumbar Meletus Diselingi 3 Kali Gempa Tektonik

By | 30/11/2015

Letusan Gunung Merapi

Jika di Pulau Jawa ada Gunung Merapi, wilayah Sumatera Barat pun punya Gunung Marapi. Sama-sama gunung berapi aktif yang cukup masif dampaknya bagi masyarakat. Baik itu dampak positif berupa kesuburan tanahnya, dan juga dampak negatif dari efek letusan gunung berapinya.

Di tahun ini, Gunung Merapi yang berada di Yogyakarta dan menjadi salah satu gunung api paling aktif di dunia sedang mengisi dapur magmanya. Banyak pengamat gunung berapi yang melihat bahwa Gunung Merapi di Yogyakarta belum akan meletus di tahun 2015 ini, setelah tahun 2010 lalu letusan Merapi terjadi sangat besar dan menghabiskan cadangan magma di dapur vulkaniknya.

Namun lain halnya dengan Gunung Marapi di Sumatera Barat. Gunung yang juga mendapat julukan sebagai gunung berapi paling aktif di Pulau Sumatera. Di Bulan November 2015 ini Gunung Marapi kembali mengeluarkan isi dari dapur vulkaniknya.

Namun seakan luput dari pemberitaan media, meletusnya Gunung marapi di SumBar ini tak mendapat porsi pemberitaan yang ramai.

Untuk diketahui, gunung berapi yang terletak di kawasan administrasi kabupaten Agam dan memiliki ketinggian 2.981 m ini sudah meletus sebanyak lebih dari 50 kali sejak akhir abad 18 silam hingga hari ini.

Dilansir dari laman Liputan6, Gunung Marapi pun meletus kembali pada Sabtu 14 November 2 pekan lalu, 14 November 2014. Di antara hujan lebat dan gempa bumi yang cukup kuat di sekitar Sumatera Barat, Gunung Marapi nampak mengepulkan abu vulkanik dalam hujan yang sangat deras.

Namun diberitakan oleh liputan6, letusan Gunung Marapi yang ditandai dengan semburan abu vulkanik terjadi di malam hari kala hujan deras mengguyur. Akibatnya hanya sebagian kecil warga yang menyadari meletusnya Gunung Marapi.

Di antara letusan Gunung Marapi, gejolak kuat tekanan di dapur vulkanik Gunung Marapi pun telah memunculkan gempa yang menggetarkan wilayah sekitar Gunung Marapi selama sekitar 40 detik.

Gempa akibat letusan Gunung Marapi itu terekam dalam seismograf selama 3 kali. Namun status gempa tektoniknya hanya dalam skala lokal. Artinya hanya warga di sekitar Gunung Marapi saja yang merasakan getaran gempa.

Hingga tulisan ini diturunkan, nampaknya aktivitas Gunung Marapi masih bisa terus bergejolak. Status Gunung Marapi telah meningkat dari level normal (level 1) menjadi waspada (level II).

Imbas dari status waspada Gunung Marapi, Petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Marapi Warseno dilansir dari liputan6 melarang warga setempat dan para pendaki mendekati Gunung Marapi dalam radius 3 km dari area kawah. (cal)

img : a-pradana.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *