Kabut Asap Tiongkok Makin Buruk: Begini Kondisi 30 Kota Berselimut Asap Beracun

By | 21/12/2015

kabut-asap-beijing-china

Masih teringat bagaimana kondisi hancurnya kualitas udara wilayah Kalimantan dan Sumatera di akhir tahun 2015 lalu? Kabut asap begitu pekat bahkan hingga menyebabkan langit di Kota Palangkaraya berubah warna menjadi kuning. Imbasnya kesehatan penduduk Palangkaraya pun tergadai karena kabut asap.

Kini memang bencana darurat asap sudah berakhir, asap yang mengepul pekat karena kebakaran hutan dan lahan gambut sudah padam diguyur oleh hujan deras.

Namun bencana asap yang serupa dengan kabut asap di Kalimantan dan Sumatera nampaknya akan terulang kembali. Kali ini bukan di tanah Borneo, bukan di tanah Sumatera. Bencana kabut asap menghantam telak kualitas udara di sebuah negeri yang berjarak ribuan kilometer dari Indonesia.

Asap mengepul makin buruk di Tiongkok atau negeri China. Sejak sebulan terakhir, kondisi kabut asap di kota-kota besar Tiongkok malah semakin memburuk. Berbeda dengan penyebab dari asap di Indonesia, kabut asap Tiongkok diprediksi semakin parah karena makin banyaknya penggunaan pemanas ruangan. Mengapa bisa demikian?

Tiongkok serupa dengan wilayah lain di belahan Asia sebelah utara kini sedang mengalami apa yang dinamakan sebagai musim dingin. Hujan salju turun setiap harinya. Akibatnya ratusan juta penduduk di Kota-Kota besar menggunakan pemanas ruangan yang berbahan baku batu bara. Asap dari pembakaran pemanas ruangan inilah yang dinilai jadi sumber utama pekatnya kabut asap di negeri China.

Dari laman Antaranews dikutip, lembaga lingkungan hidup di Tiongkok mengungkapkan sebuah data bahwa kini selain Beijing ada lebih dari 30 kota lain di Tiongkok yang berserlimut asap pekat.

Beijing sebagai ibukota negara bahkan sudah menetapkan sinyal bahaya siaga merah, atau siaga tertinggi atau tingkatan paling serius. Artinya kabut asap yang menyelimuti Beijing sudah dalam kategori sangat beracun.

Dilansir dari banyak sumber media China, aplikasi penghitung kualitas udara di Kota Beijing menunjukkan indeks polutan udara berada di level 200. Kondisi ini merupakan yang terburuk kedua setelah Beijing melewati kabut asap terburuk pada level 500 di akhir November kemarin.

Namun jika direnungi kembali, kabut asap di Beijing, Shanghai dan berbagai kota lainnya di Tiongkok masih belum bisa dibandingkan dengan hancurnya kondisi udara akibat kabut asap di Palangkaraya dan Riau akhir 2015 lalu. Catatan terburuk kabut asap di Palangkaraya pernah menembus level 2300! Jauh di atas catatan terburuk kabut asap beracun di Beijing

Namun kini, upaya penegakan hukum atas pelaku pembakar hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera nampak berhenti di jalan. Hilang ditelan kabar kabur dari bermacam isu lain.

Malahan kabar terakhir menyebutkan, nama-nama perusahaan pelaku pembakar lahan dan hutan gambut penyebab kabut asap terburuk di Indonesia tahun 2015 lalu tak akan diungkapkan ke publik dengan alasan penyelidikan.

Omong kosong macam apa lagi ini? Ah Indonesiaku. (cal)

img :  theatlantic


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *