Diabetesi: Perhatikan Kadar Gula Darah Selama Puasa Ramadhan

By | 09/06/2015

Diabetes

Bulan ramadhan sudah tinggal menghitung hari, kurang dari 9 hari ke depan, umat muslim di Indonesia akan menyambut datangnya bulan ramadhan dengan penuh suka cita. Selayaknya tradisi dan kewajiban utama selama bulan ramadhan, puasa menjadi satu hal yang amat ditunggu-tunggu, rutinitas menahan nafsu dari makan dan minum sejak matahari terbit hingga matahari tenggelam akan bergulir hingga satu bulan penuh.

Secara medis, ibadah puasa memang melepaskan dan atau mengurangi risiko terhadap beragam penyakit yang rutin mendera organ tubuh terutama organ pencernaan. Namun nyatanya, puasa yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya pun akan mengancam penyakit untuk kambuh di tubuh. Salah satunya adalah penyakit diabetes.

Secara umum, diabetes terdiri dari dua jenis gejala, yaitu Hipoglikemi dan Hiperglikemi. Dua gejala tersebut umumnya meningkat pada pasien yang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Pemeriksaan medis yang tepat dan efektif sepanjang menjalankan ibadah puasa perlu diperhatikan bagi para penderita diabetes untuk menghindari gejala yang tidak diinginkan.

Dalam istilah medis, Hipoglikemi berarti kondisi ketika glukosa dalam darah kurang dari 60 mg/dL. Ketika terjadi kondisi Hipoglikemi, maka penderita diabetes diharuskan membatalkan puasanya jika tak ingin badan semakin lemas dan berujung pada kondisi tak sadarkan diri. Biasanya Hipoglikemi ditandai dengan sejumlah tanda seperti keringat dingin, pusing dan lemas di antara waktu tengah hari hingga berbuka, atau kondisi di mana puncak tubuh berada dalam kondisi idle setelah tak ada sama sekali makanan yang dicerna oleh lambung hingga masuk waktu berbuka.

Sedangkan risiko Hiperglikemi adalah kondisi dimana kadar gula darah meningkat drastis di atas 300 mg/dL. Di bulan ramadhan, hiperglikemi biasanya terjadi sesaat usai berbuka puasa. Menu buka puasa yang berlebihan kaya akan gula dan makanan manis namun minim serat akan seketika menimbulkan efek hiperglikemi. Bisa pula terjadi akibat dosis obat diabetes yang dikurangi ketika menjalankan ibadah puasa di siang hari.

Dua risiko yang mengancam penderita diabetes selama menjalankan ibadah puasa tersebut kenyataannya memang mengalami peningkatan selama bulan ramadhan nanti. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. dr. Pradana Soewondo, Sp.PD-KEMD, selaku guru besar Fakultas Kedokteran UI seperti yang dilansir oleh portal Kompas.com yang menyebutkan bahwa risiko hipoglikemi berat meningkat 4,7 kali lipat pada diabetes melitus (DM) tipe 1 dan 7,5 kali lipat pada DM tipe 2 selama puasa Ramadhan. Selain itu risiko hiperglikemi berat 3 kali lipat pada DM tipe 1, dengan atau tanpa ketoasidosis, dan 5 kali lipat pada DM tipe 2.

Fakta di atas menunjukkan ancaman yang serius bagi para penderita diabetes. Oleh sebab itu pemeriksaan rutin di minggu-minggu awal sebelum menjalankan ibadah puasa penting untuk dilakukan. 10 hari terakhir menjelang puasa seperti sekarang ini adalah momen yang tepat untuk mendapatkan pemahaman program perilaku konsumsi makanan dan minuman selama bulan ramadhan dan perkiraan pengobatan terbaik. (ijal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *