Desa kaum Rohingya dibakar, terlihat dari luar angkasa!

By | 24/11/2016

rohingya

Kaum Rohingya kembali dirundung duka. Setelah puluhan tahun hidup terlunta-lunta di negara bagian Rakhine, wilayah barat Myanmar yang berbatasan langsung dengan Bangladesh, pembantaian kembali terjadi. Sulit untuk mendapatkan berita pasti mengenai apa saja yang telah diperbuat kepada saudara-saudara kita kaum Rohingya di Myanmar. Berita pada bulan Oktober menyebutkan bahwa terdapat 150 orang meninggal dunia,lima desa dibakar, dan 30.000 orang terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman.

Terlepas dari akses berita yang sangat terbatas, sebuah gambar satelit yang diambil pada tanggal 10 November 2016 memperlihatkan luasnya area yang rata dengan tanah. Area ini merupakan bekas pembakaran yang diduga dilakukan oleh tentara militer Myanmar. Kekejaman demi kekejaman dilancarkan oleh para tentara terhadap kaum Muslim Rohingya di Rakhine. Para lelaki ditembaki, perempuan banyak yang diperkosa, dan anak-anak dibunuh. Yang lebih menyedihkan adalah pemerintah Myanmar dianggap menutup sebelah mata, bahkan cenderung mendukung segala kejadian yang berlangsung,.

Rohingya telah disebut sebagai kaum yang paling teraniaya di dunia oleh PBB. Akan tetapi, penganiayaan terhadap mereka seperti belum terlihat akhirnya. Aung San Suu Kyi, Presiden De Facto Myanmar, memilih untuk tidak bersuara mengenai kasus yang terjadi kepada warga mereka. Klaim pro-demokrasi yang digaung-gaungkan di Myanmar pun kembali dipertanyakan kesungguhannya.

Saat ini masih banyak lelaki, perempuan, dan anak-anak yang terperangkap di tengah-tengah area konflik. Mereka tidak dapat mengungsi keluar Myanmar melalui jalur darat. Mereka yang sempat berusaha melarikan diri melalui perbatasan Myanmar-Bangladesh tidak dapat menyeberang karena akan berstatus sebagai imigran illegal. Akibatnya, 200 orang terlunta-lunta di dinding-dinding perbatasan menunggu uluran tangan orang yang mau menyelamatkan.

Sejak tahun 2012 lalu, warga Rohingya melakukan eksodus besar-besaran dari wilayah Rakhine, Myanmar. Ribuan dari mereka berenang menyeberangi sungai untuk kemudian menyelundupkan diri ke kapal-kapal. Mereka terkatung-katung di laut selama berbulan-bulan menuju negara lain seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Dengan keterbatasan kapal dan kondisi warga Rohingya yang mengenaskan, banyak dari mereka yang meninggal dunia di tengah perjalanan.

Baca juga Melihat Geliat Aktvitas Muslim Myanmar saat Ramadhan di Yangon

Sumber foto: Siasat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *