Bencana Tepian Negeri: Kemarau Makin Memperparah Gizi Buruk di NTT

By | 28/07/2015

gizi-buruk-ntt

Sudah tiga bulan terakhir sejak musim kemarau yang gersang menyapa negeri ini. Kemarau membawa bencana kekeringan, kemarau identik dengan penderitaan berkepanjangan. Hujan tak menentu datang, hujan yang ditunggu nihil nampaknya. Kemarau nyata telah menggersangkan ratusan ribu hektare sawah merata di seluruh wilayah Indonesia. Tak terkecuali di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Musim kemarau panjang tahun ini mulai menunjukkan imbas penderitaan berkepanjangan. Kemarau panjang sebabkan gagal panen. Gagal panen makin memperburuk gizi buruk di kalangan “anak-anak Timor”, sebutan bagi anak-anak lokal di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Bencana gizi buruk di Provinsi NTT memang sudah berlangsung cukup lama, bahkan sejak awal tahun lalu, angka kejadian gizi buruk tak pernah hilang dari statistik kesehatan bulanan Provinsi NTT. Tercatat 1.918 anak mengalami gizi buruk selama lima bulan pertama tahun 2015, 11 di antaranya meninggal dunia, seperti terungkap dalam data Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ditilik dari catatan sejarahnya, masyarakat tepian negeri di Pulau Timor memang selalu berada dalam kondisi marjinal tak berkecukupan. Kasus gizi buruk pun sudah bukan lagi hal aneh di NTT. Namun, bencana kekeringan yang makin parah di tahun ini menjadi pemicu bertambahnya angka kejadian gizi buruk yang mendera balita dan anak-anak Timor.

Apalagi menurut prediksi, bencana kekeringan di tahun ini akan terjadi lebih panjang dari tahun kemarin mengingat fenomena El Nino yang masih saja terjadi di wilayah geografis Indonesia. Saat memasuki gejala El Nino, aliran massa uap air dari Indonesia mengalir ke Samudera Pasifik, akibatnya terjadi pengurangan pasokan uap air di wilayah Indonesia. Padahal pasokan uap air yang melimpah di Indonesia adalah pemicu turunnya hujan deras. Akibatnya, fenomena El Nino akan menambah panjang waktu kemarau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Satu wilayah NTT yang cukup parah mengalami bencana kekeringan ada di pesisir pantai bagian selatan Pulau Timor, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TSS). Enam desa di wilayah tersebut mencapai kekeringan maksimal karena hujan sejak awal 2015 lalu hanya turun sebanyak tiga kali, seperti yang dilansir dari laman National Geographic.

Akibatnya, tanaman padi dan jagung yang menjadi bahan makanan utama sama sekali tak bisa tumbuh. Sedikitnya lebih dari 1.000 jiwa di enam desa pun berada dalam kategori darurat rawan pangan.

Hingga memasuki pertengahan tahun ini, catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara menunjukkan fakta bahwa 106 balita menderita gizi buruk, namun sebagian besar dari mereka telah pulih setelah diberikan perawatan intensif dibawah konsultasi doktor gizi dan diberikan asupan makanan tambahan selama 90 hari. Kini, tinggal belasan anak yang masih mendapatkan penanganan intensif dan dalam proses pemulihan dari bencana gizi buruk.

Namun, statistik itu hanya ada di Kabupaten Timor Tengah Utara. Padahal persoalan gizi buruk merupakan persoalan yang nyata dan sudah berada dalam tataran kronis bagi masyarakat Nusa Tenggara. Pola makan yang buruk ditambah kesadaran akan gizi yang amat rendah apalagi dengan kondisi ekonomi miskin dan terbelakang makin memperparah kondisi saudara kita di tepian negeri, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.

Sampai kapan penderitaan mereka akan berakhir? Tak bisa kah sedikit saja kebahagiaan yang kita rasa dibagi dengan mereka yang membutuhkan di ujung timur sana? (CAL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *