Begini Kisah Distribusi Bantuan Makanan untuk Madaya Suriah

By | 19/01/2016

2016-01-11 14:12:04 Syrians wait for the arrival of an aid convoy on January 11, 2016 in the besieged town of Madaya as part of a landmark six-month deal reached in September for an end to hostilities in those areas in exchange for humanitarian assistance. Forty-four trucks operated by the International Committee of the Red Cross, the Syrian Red Crescent, the United Nations and World Food Programme left from Damascus to enter Madaya, where more than two dozen people are reported to have starved to death.  / AFP / STRINGER

Madaya Suriah mendadak menjadi perbincangan jutaan orang. Wajar saja, sebab apa yang menjadi cerita dari Madaya adalah sebuah tragedi. Krisis kemanusiaan di Suriah yang sudah terjadi selama bertahun-tahun akhirnya menjadi bom waktu ketika Madaya dikenal dunia. Madaya adalah sebuah distrik terpenci di Suriah yang letak geografisnya berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.

Selama bertahun-tahun sejak perang Suriah berkecamuk, Madaya dikepung oleh ranjau darat. Akibatnya bantuan makanan tak bisa menembus blokade perang dari militer pemerintah. Harga makanan di Madaya pun melonjak drastis, ribuan jiwa penduduk Madaya hidup dalam gizi buruk, hingga hari ini.

Namun perlahan cerita mulai berubah di Madaya, setelah dikenal dunia beragam bantuan menyasar ke Madaya. Di pekan ketiga Januari ini akhirnya bantuan untuk Madaya dari PBB berhasil masuk dan menembus blokade perang. Dikutip dari laman National Geographic, konvoi bantuan dari berbagai lembaga internasional berhasil menembus Madaya setelah sebelumnya melakukan kesepakatan dengan tentara pemerintah dan pemberontak ISIS.

Dari National Geographic pun dilaporkan ternyata konvoi truk bantuan makanan sebelumnya sempat dikepung oleh para pemberontak di Provinsi utara Idlib. Tak hanya Madaya yang kini terjebak oleh bencana kelaparan dan gizi buruk, masih ada Foah dan Kefraya yang juga bernasib serupa, sekitar 20.000 penduduk di Foah dan Kefraya terjebak karena blokade perang sejak Maret tahun 2015 lalu.

Pawel Krzysiek dari International Commitee of the Red Cross (ICRC) saksi mata yang mengikuti proses distribusi bantuan makanan di Madaya mengisahkan bahwa ketika truk bantuan datang di Madaya orang orang berlarian dan menghampiri sambil bertanya. ÔÇťapakah kalian membawa makanan, apakah kalian membawa obat-obatan?”

Masih dari kesaksian Pawel Krzysiek dari Madaya, orang-orang Madaya nampak tersenyum ketika konvoi truk bantuan datang, namun banyak dari mereka yang terlihat lelah dan sangat lemah dengan ekspresi yang suram.

Hingga tulisan ini diturunkan, selama dua pekan terakhir dilaporkan sudah ada dua kali pengiriman bantuan makanan yang berhasil masuk Madaya. Jika ditotal, ada sekitar 44 truk bantuan yang masuk ke Madaya. Seluruh bantuan itu dikirimkan oleh PBB, ICRC , Syirian Red Crescent dan the World Food Programme. Kebanyakan dari mereka mengirimkan bantuan dasar bahan makanan, termasuk beras, minyak sayur dan minyak goreng, tepung untuk membuat roti, gula, garam, susu bayi, selimut, obat-obatan, perlengkapan bedah serta air bersih. (cal)

img: AFP STRINGER

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *