Bank Dunia: 2 Alasan Kerugian Kebakaran Hutan lebih Buruk dari Bencana Tsunami Aceh

By | 28/12/2015

Kerugian-Tsunami-Aceh

Desember tahun 2015 ini publik dunia memperingati 11 tahun bencana tsunami Aceh dengan nostalgia dan doa-doa. Tak bisa dimungkiri, kerugian dan kerusakan yang nampak pasca bencana tsunami begitu hancur, begitu masif kerusakannya. 11 tahun lalu, 26 Desember 2004, hempasan ombak tinggi yang dikenal sebagai tsunami bergerak secepat pesawat jet sampai mencapai ketinggian puncak 30 meter. Beberapa menit kemudian yang terjadi adalah tangis pilu, yang terekam adalah kepanikan dan kematian lebih dari 160 ribu jiwa dalam 15 menit bencana tsunami. Kota-kota pesisir di Aceh rata dengan tanah. Menyisakan salah satu kerugian terburuk dari bencana alam.

Namun tahukah Anda bahwa ternyata kerugian Indonesia akibat bencana tsunami Aceh belum lama ini dikalahkan dengan rekor kerugian akibat bencana terburuk yang baru saja terjadi: pembakaran hutan dan kabut asap!

Ya, kabar ini dirilis oleh Grup Bank Dunia di akhir tahun 2015. Menurut Bank Dunia seperti dilansir dari Tempo.com, kerugian yang harus diderita Indonesia akibat buruknya penanganan kasus kebakaran hutan dan kabut asap Agustus-Oktober 2015 lebih tinggi 2x lipat dari kerugian pasca bencana tsunami Aceh. Menurut Bank Dunia, catatan statistik terbaru menunjukkan bahwa kerugian akibat kebakaran hutan dan kabut asap tahun 2015 mengakibatkan kerugian bagi Indonesia sebesar US$ 15 miliar! Angka itu 2 kali lipat lebih besar dari kerugian infrastruktur dan kerugian sosial pasca bencana tsunami Aceh 11 tahun silam. Mengapa bisa demikian?

2 alasan ini bisa menjawab mengapa kerugian akibat kebakaran hutan jauh lebih besar 2 kali lipat dari bencana tsunami Aceh:

  1. Estimasi kerugian terbesar mencakup sektor Pertanian dan Kehutanan

Besarnya angka kerugian yang harus ditanggung oleh Indonesia akibat kebakaran hutan disebabkan oleh begitu parahnya kegagalan sektor pertanian dan kehutanan selama asap pekat masih membubung dan menyelimuti Sumatera dan Pekanbaru. Tak terhitung pula belasan ribu hektare lahan hutan yang terbakar karena pembakaran yang dilakukan secara sengata untuk membakar lahan

  1. Kerugian di sektor strateis transportasi, perdagangan, pendidikan, dan pariwisata

Alasan kedua penyumbang kerugian terburuk akibat bencana kebakaran hutan tahun 2015 adalah kegagalan yang begitu sistemik di sektor strategis. Tak terhitung lagi kerugian sektor transportasi, perdagangan, pendidikan, dan pariwisata yang harus diderita oleh masyarakat terdampak bencana. Kegiatan perdagangan dan sekolah terpaksa dihentikan karena asap menyebar. Bank Dunia mencatat sekitar 5 juta siswa kehilangan waktu belajar akibat penutupan sekolah pada 2015. Kemudian ribuan penerbangan pun terpaksa dibatalkan selama berminggu-minggu akibat bencana asap. Matinya perdagangan pun membuat banyak keluarga berpenghasilan rendah kini jatuh miskin karena matinya ekonomi saat kebakaran hutan terjadi selama beberapa bulan. (cal)

img : wikimedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *