Badai Matthew, Katrina, Kenapa Nama-Namanya Begitu Cantik?

By | 10/10/2016

101016-badai-matthew

Badai Matthew baru saja mengguncang berbagai daerah di Amerika. Badai sendiri merupakan gangguan cuaca yang ekstrim, mulai dari hujan es dan badai salju sampai badai pasir dan debu. Badai bergerak di atas permukaan laut mengikuti arah angin dengan kecepatan sekitar 20 km/jam. Kekuatan angin ini dapat bertambah secara drastis hingga mampu menyebabkan kerusakan seperti meruntuhkan bangunan,mencabut akar pepohonan, dan lain-lain. Selain itu, badai yang mendapai daratan semakin membahayakan karena dapat memicu berbagai bencana alam seperti sambaran petir, banjir bandang, dan angin kencang.

Di berbagai belahan dunia, badai memiliki berbagai macam nama panggilan. Kebanyakan nama-nama dari badai tersebut dapat dibilang merupakan nama yang cantik. Badai Matthew misalnya, memiliki nama yang menarik. Mengapa demikian? Sebelum kita memiliki sistem penamaan seperti saat ini, Amerika Serikat pernah mengusulkan untuk menggunakan titik koordinat untuk menentukan nama badai, akan tetapi hal ini dianggap terlalu rumit. Pada tahun 1951, Amerika Serikat juga mendukung sistem penamaan berdasarkan alfabet fonetis (seperti Able, Baker, dan Charlie) yang dikembangkan militer. Akan tetapi, sistem ini masih dianggap membingungkan.

Revolusi penamaan badai dimulai ketika para peramal cuaca mulai menggunakan nama-nama perempuan pada tahun 1953. Sistem ini kemudian disempurnakan pada tahun 1979 menggunakan tidak hanya nama-nama perempuan, tetapi juga nama laki-laki dengan sistem alfabetik. Nama-nama dengan awalan Q, U, X, Y, dan Z tidak digunakan.

Otoritas pemberian nama badai saat ini berada di tangan World Meteorogical Organization (WMO). Badan ini bertugas memperbaharui enam wilayah cuaca di dunia dan nama-nama tersebut akan dirotasi setiap 6 tahun. Daftar nama badai untuk tahun 2016, misalnya, akan digunakan lagi pada tahun 2022. Nama-nama seperti badai Matthew, Lisa, Otto, dan lain-lain dipilih melalui pemungutan suara oleh WMO. Nama badai yang memakan banyak korban jiwa akan diabaikan dan diganti dengan nama yang baru di putaran selanjutnya.

Sampai saat ini, pengalaman membuktikan bahwa nama yang singkat dan menarik lebih efektif digunakan dalam pertukaran informasi mengenai badai yang akan dan sedang terjadi. Hal ini terutama sangat berguna bagi stasiun informasi yang tersebar di berbagai belahan dunia, pelabuhan-pelabuhan, dan kapal-kapal di lautan. Namun, secantik dan menarik apapun itu, nama-nama tetap berpotensi membawa kehancuran di daerah yang mereka lalui.

**

Foto: Business Insider

Baca juga Topan di Busan dan Puting Beliung di Indonesia, Apa Perbedaannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *