Author Archives: Admin

About Admin

Aksi Cepat Tanggap Lembaga Kemanusiaan | Global Wakaf | Global Zakat | Global Qurban |

4 Orang Tewas Akibat DBD di Lebak, 560 Jiwa pun Positif DBD

dbd-di-lebak

Cerita tentang Kabupaten Lebak tak pernah berhenti menundang pilu. Sudah sekian lama terjebak dalam keterpurukan kondisi sosial yang sulit untuk berkembang, ditambah lagi mirisnya kondisi kesehatan dan sanitasi warga di Lebak makin membuat beragam kasus pelik melanda Lebak. Kabar yang terbaru, sejak Januari 2016 sampai dengan April 2016, pasien Demam Berdarah Dengue atau DBD di Lebak sudah mencapai 560 orang. Dari jumlah tersebut dilaporkan 560 orang di antaranya meninggal dunia. Kondisi ini pun makin membuat Kabupaten Lebak termasuk dalam status Darurat DBD.

Mengutip dari Antara, kebanyakan pasien DBD di Lebak dirawat difokuskan untuk dirawat intensif di dua rumah sakit yang berbeda di kawasan Rangkasbitung, Kab. Lebak. 405 pasien DBD serentak dirawat di Rumag Sakit Umum Daerah (RSUD) Ajidarmo Rangkasbitung.  Sedangkan 155 orang lainnya dirawat di Rumah Sakit Misi Rangkasbitung.

Namun ternyata, pasien DBD di Lebak yang terdata oleh Dinas Kesehatan setempat ini tak hanya berasal dari Lebak saja. Beberapa terdata juga berasal dari daerah Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bogor.

Jika dilihat dari potensi cuaca yang terus terjadi selama beberapa bulan ke belakang, kemungkinan sebaran wabah penyakit Demam Berdarah Dengue memang meningkat drastis. Pasalnya cuaca hujan lebat yang lembab memang menjadi momen paling efektif untuk nyamuk berkembang biak. Apalagi pasca hujan deras biasanya banyak menyisakan genangan air di beberapa tempat yang menyerupai wadah. Genangan air adalah lokasi terbaik bagi nyamuk aedes aegypti, nyamuk penyebar virus DBD untuk berkembang biak.

Sementara itu, kasus kematian penderita DBD di Lebak bermula ketika 4 pasien yang positif DBD tak segera ditangani oleh rumah sakit terdekat. Padahal penderita DBD biasanya akan merasakan gejala penurunan trombosit yang drastis. Akibatnya fatal, jika trombosit berada di bawah ambang batas normal maka kematian sudah diujung mata.

Untuk diketahui, trombosit atau keping darah adalah sel tersirkulasi dalam darah dan terlibat dalam mekanisme hemostasis tingkat sel dalam proses pembekuan darah dengan membentuk darah beku. Rasio plasma keping darah normal berkisar antara 200.000-300.000 keping/mm³, nilai dibawah rentang tersebut dapat menyebabkan pendarahan. Penurunan trombosit yang begitu drastis ini bisa menjadi gejala paling fatal dari penyakit DBD.

Pencegahan utama untuk menghindari risiko dari DBD paling mudah dengan melakukan peningkatan kebersihan lingkungan. Selain itu paling penting diperhatikan untuk pengoptimalan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) juga melakukan kegiatan 3M (mengubur, menutup, menimbun) barang-barang bekas.(cal)

Perang Yaman: Ratusan Ribu Anak Yaman Kelaparan

anak-anak Yaman

Selain kemelut perang yang sedang meluluhlantakkan Suriah, dunia perlu membuka mata lagi bahwa tragedi berdarah yang sama sekali tak ada keuntungannya pun sedang terjadi di Yaman, Perang di Yaman pun serupa dengan apa yang sedang terjadi di Suriah.

Kehancurkan akibat konflik saudara telah merenggut masa depan bangsa Yaman. Tak bisa dipungkiri, dunia memang sedang kelam oleh perang yang menghancurkan segala lini kehidupan. Ironisnya lagi perang yang terjadi mempertemukan arogansi politik untuk berkuasa. Tengok saja bagaimana awal mula dari perang Suriah, ego politik banyak pihak yang bertikai sudah menghancurkan seluruh kehidupan di Suriah.

Serupa dengan apa yang terjadi di Suruh, kini konflik atau perang di Yaman pun masih berlangsung hingga hari ini. Ketika ego dan arogansi kekuasaan atau harta berseteru, maka kerugian hanya akan mendera jutaan warga sipil tak bersalah.

Bahkan akibat perang Yaman, ratusan ribu anak-anak Yaman terancam oleh penyakit mematikan berupa gizi buruk dan minimnya akses untuk kesehatan dan air bersih. Jangankan pelayanan kesehatan, ketika perang Yaman meletus untuk mendapatkan sepotong roti saja bagaimana menambang emas di dalam tanah. Perang Yaman telah membawa jutaan pernduduknya terjebak dalam tragedi kemanusiaan yang entah kapan akan berakhir.

Lebih buruk lagi, mengutip dari CNN, konflik Yaman dilihat oleh UNICEF PBB sebagai alasan untuk ratusan kasus pelanggaran berat ketika melibatkan anak-anak untuk dipaksa berperang. UNICEF menyebut, semua pihak yang bertikai di Yaman sudah terbukti melakukan pelanggaran HAM berat dengan melibatkan anak-anak Yaman menjadi tentara. Jumlah kasus yang terdeteksi oleh UNICEF sampai mencapai 848 kasus. Bahkan anak-anak berumur 10 tahun sampai dipaksa terlibat memegang senjata.

Untuk diketahui, perang di Yaman bermula ketika pasukan militan Houthi bermaksud untuk melengserkan atau menggulingkan secara paksa kepemimpinan Presiden Yaman Abdu Rabbu Mansour Hadi dan menerbitkan pemimpin baru bagi negeri Yaman. Namun Arab Saudi yang mendukung Presiden Yaman ikut campur dengan menurunkan pasukan bersenjata di tengah konflik Yaman. Akhirnya setelah satu tahun terus berperang antara tentara militer Yaman koalisi tentara Arab Saudi dengan pasukan militan Houthi, PBB mencatat lebih dari 6.200 orang tewas, jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Ironisnya lagi, UNICEF menyatakan bahwa setiap harinya dilaporkan enam anak-anak tewas atau terluka akibat perang di Yaman. Dalam laporannya tentang anak-anak dan perang Yaman yang diberi judul ”Chilhood on the Brink”, UNICEF mengonfirmasi sekitar 934 anak tewas dan 1.356 terluka selama satu tahun terakhir akibat terlibat dalam perang.

Rata-rata dampak paling buruk akibat perang di Yaman telah membuat 22 provinsi di Yaman berada pada ambang kelaparan dan lebih dari 13 juta orang membutuhkan bantuan makanan. Dan laporan lanjutan dari UNICEF pun mengungkap ada 320 ribu anak-anak berisiko kekurangan gizi akut. Anak-anak di Yaman pun rentan terhadap infeksi pernapasan yang mematikan, pneumonia dan penyakit infeksi karena kurangnya kebersihan air. (cal)

Sekjen PBB: Darurat Suriah, Semua Negara Harus Mau Tampung Pengungsi Suriah

anak-anak-suriah

Suriah, sebuah negara yang kini berada dalam darurat tragedi kemanusiaan yang ekstrem, segala macam bentuk dari bencana kemanusiaan mungkin tersaji lengkap di lanskap Suriah. Semua kehancurkan yang diakibatkan oleh Perang Suriah sudah berada di level yang tak bisa lagi dimaafkan. Sebuah peradaban dari bangsa Suriah ada diujung tanduk. Jika tak ada solusi yang benar-benar efektif, bukan tak mungkin sejarah peradaban bangsa Syria yang sudah berlangsung jutaan tahun lenyap begitu saja dari muka bumi. Semua karena sebuah perang, darurat perang Suriah begitu nyata tersaji di depan mata.

Menyikapi darurat perang Suriah yang bergerak ke arah semakin buruk tanpa ada potensi munculnya perdamaian, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-bangsa Ban Ki-moon memberikan pernyataan tegas bahwa semua negara di dunia ini harusnya mau untuk menerima jutaan pengungsi Suriah. Menghargai hak-hak asasi manusia jutaan warga sipil Suriah. Jutaan warga sipil korban perang yang juga berhak atas perlindungan keamanan dan jaminan ekonomi yang lebih baik untuk kembali melanjutkan hidup.

Pernyataan Sekjen PBB ini dirilis saat membukan Konferensi Tingkat Tinggi yang diadakan oleh badan pengungsi PBB UNHCR di Jenewa. Sekjen PBB Ban Ki Moon ini menggambarkan imbas dari perang Suriah sebagai sebuah “tuntutan kepada dunia untuk meningkatan kembali solidaritas global secara masif dan drastis”.

Hingga hari ini, Badan Pengungsi PBB UNHCR mengaku sudah menampung sekitar 480.000 jiwa lebih pengungsi Suriah. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak Suriah dan perempuan Suriah yang lemah tak mampu bertahan dalam kondisi desingan perang di Suriah.

PBB mengaku akan menampung 480.000 jiwa pengungsi Suriah setidaknya selama 3 tahun ke depan, sambil melihat bagaimana perkembangan resolusi damai perang Suriah. Namun kini PBB pun mengakui bahwa kondisi pengungsi Suriah di penampungan bergerak ke arah lebih buruk, pasalnya kondisi di Suriah masih bergumul dengan ketakutan dan pertikaian politik yang malah makin meluas.

Atas dasar kondisi pengungsi Suriah yang makin pelik ini, Ban Ki Moon meminta kepada negara-negara di Uni Eropa untuk membuka kembali jalur perbatasan mereka, memberikan tambahan jumlah kuota pengungsi, membangun pemukiman baru, mengizinkan bantuan kemanusiaa dari lembaga lain masuk ke Eropa. Menyatukan keluarga-keluarga pengungsi Suriah yang terpecah belah dan memberikan kesempatan belajar dan bekerja bagi warga Suriah di Eropa.

PBB mengajak masyarakat dunia untuk bergerak bersama menyatukan suara untuk membantu meringankan beban pengungi Suriah. Mengatasi krisis Suriah ini dengan cara-cara yang lebih manusiawi, adil dan terstruktur. Masyarakat dunia harus bersatu, menyamakan pendapat dan suara tentang bagaimana menghentikan penderitaan warga Suriah agar tak bergerak ke arah lebih buruk.

Hingga hari ini, hampir 5 juta orang pengungsi Suriah yang didominasi oleh perempuan dan anak-anak Suriah mengungsi ke luar negeri, sebagian besar ke negara tetangga Turki, Lebanon, Yordania dan Irak. (cal)

Sumatera Selatan Bertekad Tak Mau Mengulang Kebakaran Hutan Tahun 2016

Sejumlah pengendara melintas diatas jembatan Ampera dengan latar perairan sungai musi yang tertutup kabut asap, Palembang, Sumsel. Selasa (29/9).

Masih teringat bagaimana buruknya dampak dari kasus kebakaran hutan di Sumatera Selatan tahun 2015 silam. Menjelang akhir tahun, saat kemarau panjang mencapai puncaknya di Indonesia, Sumatera Selatan menjadi satu dari sekian provinsi di Indonesia yang harus menerima bencana kebakaran hutan terdahsyat sepanjang sejarah modern di Indonesia.

Kabut asap pekat menutupi seluruh wilayah Sumatera Selatan tak terkecuali. Buruknya lagi, kasus kebakaran hutan ini berlangsung sangat lama, sampai mencapai hitungan 4 bulan belum ada tanda-tanda becana kebakaran hutan dan kabut asap akan berakhir. Hingga akhirnya awal November 2015 silam, musim hujan mulai datang di Indonesia, perlahan memadamkan ribuan titik api kebakaran hutan di Sumatera Selatan.

Kini, menjelang berakhirnya periode musim hujan dan memasuki awal musim kemarau, mungkinkah kasus kebakaran hutan di Sumatera Selatan terulang kembali?

Mengutip dari laman Antara, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin menegaskan bahwa daerah yang dipimpinnya sudah bertekad tak kan ada lagi kejadian kebakaran hutan di Sumatera Selatan selama tahun 2016 mendatang. Warga Sumatera Selatan mengaku malu jika terus dicaci maki sebagai salah satu penyebab dari kebakaran hutan yang merugikan banyak pihak.

Menurut hitungan Alex Noerdin, selama tahun 2015 kemarin, periode bencana kebakaran hutan di Sumatera Selatan bahkan mencapai 4 bulan lebih. Kabut asap akibat kebakaran hutan pun tak hanya mengganggu provinsi tetangga Palembang, namun juga membawa kerugian besar bagi negara tetangga seperi Singapura dan Malaysia.

Bahkan pemerintah Palembang akhirnya menetapakan status Kejadian Luar Biasa Kebakaran Hutan. Berturut-turut Malaysia, Singapura, dan Australia ikut membantu mengirimkan bantuan pesawat pengebom air.

Selain pemadaman kebakaran hutan lewat udara, skeitar 3.000 prajurit TNI Angkatan Darat pun terjun langsung dengan ribuan relawan lainnya untuk memadamkan api di ratusan titik api penyebab kebakaran hutan Sumatera Selatan.

Sejak saat itu, Sumatera Selatan pun diejek oleh dunia sebagai daerah penghasil asap. Sebuah sebutan yang tentu memalukan bagi warga Sumatera Selatan.

Walau menyakitkan, namun bukan berarti Sumatera Selatan tak bisa belajar dari sejarah kebakaran hutan hebat tahun 2015 silam. Alex Noerdin mewakili warga Sumatera Selatan mengakui bahwa banyak hikmah yang bisa diperoleh dari buruknya imbas kejadian kebakaran hutan setahun lalu. Tak terhitung lagi pelajaran yang bisa dipetik, terutama hikmah dan ilmu-ilmu menangani kebakaran hutan dari negara lain yang ikut membantu memadamkan api.

Terlebih, Sumatera Selatan kini mulai bergerak memahami bahwa pembukaan lahan terutama hutan gambut sama sekali tak layak untuk dibakar. Sebab pembukaan lahan dengan cara dibakar akan membawa kerugian yang sangat besar, walau ongkos prosesnya murah tanpa perlu menggunakan buldozer.

Setiap kejadian bencana memang selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Semoga kasus kebakaran hutan di Sumatera Selatan tak terulang lagi di tahun 2016 ini. (cal)

Suriah Gencatan Senjata, Bantuan Kemanusiaan Melonjak Drastis

kelaparan Suriah

Sampai dengan hari ini, Perang Suriah masih jadi momok menakutkan. Banyaknya kepentingan dan kemelut pihaj-pihak egois terus mengompori terjadinya perang. Kondisi ini telah menghancurkan semua sisi negeri Suriah.

Jutaan penduduknya pun sudah kabur melarikan diri ke negara lain sebagai pengungsi korban perang. Namun di tengah kemelut perang ini, roket, rudal, deru tembakan, dan ledakan ranjau yang bersahutan di Suriah, masih ada banyak warga Suriah yang “terjebak” dalam blokade perang Suriah. Tak ada pilihan lain selain bertahan dan mengusahakan apapun untuk menghidupi diri dan keluarga.

Masih teringat kasus kelaparan parah di Madaya Suriah beberapa bulan lalu. Kejadian itu pun menyentak dunia, membuka mata dunia bahwa kondisi warga yang terjebak dalam blokade perang di Suriah masih sangat membutuhkan aliran bantuan. Nihilnya logistik dan bahan makanan siap saji membuat jutaan warga yang terjebak di kota-kota pinggiran Suriah hanya bisa makan dedaunan di kondisi musim dingin yang mencekam.

Hingga hari ini, kondisi tak jauh beda. Perang Suriah belum ada tanda-tanda akan segera berakhir. Namun setidaknya kondisi gencatan senjata yang sudah disepakati bersama oleh pihak-pihak yang bertikai sudah mengubah sedikit lebih baik kondisi warga Suriah di daerah blokade perang. Pasalnya sejak Suriah gencatan senjata, bantuan kemanusiaan yang masuk ke Suriah dilaporkan sudah meningkat drastis.

Mengutip dari CNN, laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bantuan kemanusiaan gabungan lembaga-lembaga kemanusiaan di seluruh dunia sudah mulai bertahap masuk ke daerah konflik di Suriah. Kenyataannya masih ada jutaan warga sipil yang terjebak dalam kemelut perang, mengalami gizi buruk dan penyakit parah baik fisik maupun jiwanya.

Laporan bulanan PBB yang dirilis pada Maret 2016 kemarin mengatakan bahwa konvoi bantuan kemanusiaan untuk Suriah sudah berhasil menjangkau sedikitnya 10 daerah dan 18 daerah yang paling sulit dijangkau di Suriah. Perlahan bantuan kemanusiaan berupa bahan logistik, makanan, obat-obatan, selimut, baju bayi termasuk tenaga medis sudah mulai bisa menjangkau kawasan pelosok dari Suriah.

Kondisi warga sipil yang terjebak perang setidaknya akan semakin membaik karena bantuan kemanusiaan sudah bisa masuk sejak gencatan senjata antara pihak yang bertikai 27 Februari lalu sampai dengan waktu yang belum ditentukan.

Sebagai perbandingan, sepanjang musim yang buruk dan kemelut perang tahun 2015 silam tak lebih dari 1% kawasan terpencil di Suriah yang berhasil ditembus untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan. Namun di awal tahun ini bantuan kemanusiaan akhirnya bisa masuk ke Suriah.

Semoga saja kasus gizi buruk dan kematian dini balita akibat penyakit di Madaya Suriah tak terulang kembali. Dari catatan PBB yang dilansir akhir Maret 2016 kemarin, hingga kini masih terdapat lebih dari 487 ribu warga yang tinggal di daerah terkepung oleh militan. Dan lebih dari empat juta lainnya tinggal di daerah yang sangat sulit dijangkau di Suriah. (cal)

Kekeringan di Somalia, Ribuan Jiwa Terancam Mati Kelaparan

DROUGHT - EAST AFRICA

Sampai dengan hari ini, negara-negara miskin di Afrika masih terjebak dalam beragam kasus bencana kemanusiaan akut yang belum tuntas ditemukan solusinya. Salah satu yang paling parah terjadi di Somalia. Sebagai negara yang sekian dekade terjebak dalam kemiskinan, perang saudara, wabah penyakit dan beragam masalah kemanusiaan lainnya, Somalia belum mampu untuk bangkit menuntaskan masalahnya seorang diri. Apalagi di tengah kondisi perubahan cuaca yang demikian ekstrem seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir.

Lebih dari 10 juta penduduk Somalia yang tercatat pada tahun 2014 hari ini masih berada dalam kekalutan menatap masa depan. Mengutip dari Antara, rilisan terbaru dari PBB mengatakan bahwa kini ribuan jiwa di Somalia sebelah utara terancam mati akibat becana kekeringan.

Kekeringan di Somalia serupa seperti dengan kekeringan yang terjadi di Indonesia, sebab secara geografis pun Somalia berada dekat dengan garis khatulistiwa. Kondisi ini menyebabkan Somalia ikut terkena imbas dari fenomena El Nino yang memicu musim kemarau dan kekeringan berkepanjangan.

Kondisi ini bahkan diperburuk dengan kelangkaan bahan makanan dan minimnya pasokan bantuan dari lembaga kemanusiaan internasional selama menghadapi musim kemarau. Padahal prediksi PBB, musim kemarau dan kekeringan di Somalia tahun 2016 ini akan berlangsung lebih panjang dan lebih ekstrem dibandinkan dengan kekeringan di tahun sebelumnya.

Dalam hitungan PBB, ada sekitar 1,7 jiwa rakyat Somalia yang mayoritas Muslim ini sedang berada dalam ancaman kematian. Sebab 40 persen dari total penduduk di kawasn Puntland dan Somaliland di Somalia utara, yang berstatus semi-otonomi, membutuhkan bantuan darurat. PBB menyebut angka bantuan kemanusiaan untuk Somalia sebelah utara demi mencegah kematian ribuan jiwa akibat musim kemarau panjang ini bisa mencapai jumlah 105 juta dollar AS.

Kekeringan panjang di Somalia dengan suhu rata-rata harian hampir menembus 40 derajat celcius telah membuat kelangkaan air dan rumput. Sehingga banyak ternak pun mati tak dapat makanan. Padahal di tengah kemelut penderitaan kemanusiaan di Somalia dan minimnya bantuan kemanusiaan yang masuk, hewan ternak adalah pilihan terbaik sebagai sumber makanan.

Ratusan kasus kemarian akibat bencana gizi buruk sudah dilaporkan terjadi di kawasan Awdal Somalia selama tahun 2016 ini. Kawasan Awdal ini berada di barat laut Somalia dan berbatasan langsung dengan Ethiopia.

Bahkan bertumpuknya kasus bencana kemanusiaan di Somalia ini masih ditambah pula dengan pertempuran atau perang saudara yang masih saja terjadi dan terus memanas antara kelompok militan al Shaabab dan pihak pemerintah di kawasan Puntland. Perang saudara yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun ini telah menjadi ancaman keras bagi banyak lembaga kemanusiaan termasuk Aksi Cepat Tanggap untuk mendistribusi bantuan Global Qurban sampai ke Somalia. (cal)

Img: africaurgente.org

Banjir Ternyata Belum Berakhir, Apa Penyebab Banjir Bandang di Barito Utara Kalteng?

Banjir Barito

Bencana banjir belum berakhir, berturut-turut daerah-daerah di luar Pulau Jawa dilaporkan masih diterjang banjir. Kali ini banjir terjadi di Kabupaten Barito Utara. Banjir di lokasi ini bahkan tergolong banjir bandang sebab derasnya air banjir akibat luapan sungai sampai menutup akses jalan utama provinsi dari Muara Teweh menuju Banjarmasin.

Mengutip dari Antara, banjir bandang di Barito Utara ini sampai menenggelamkan 15 Desa sekaligus dengan ketinggian air banjir yang bervariasi. Banjir terjadi pada Minggu, 3 April 2016. Menerjang hampir seluruh wilayah Kecamatan Gunung Timang, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

Lantas, apa penyebab banjir bandang di Barito Utara Kalimantan Tengah?

Banjir kali ini disebabkan oleh meluapnya anak Sungai Barito yakni Sungai Montallat. Anak sungai Barito ini membelah daratan dari Kecamatan Gunung Timang.

Laporan terbaru yang dirilis Antara, banjir di Barito Utara ini paling parah merendam Desa Pelari, Tongka, Siwau, Payang Ara, Sangkorang, Jaman dan Kandui serta beberapa desa di hilir seperti Desa Malungai, Rarawa, Ketapang, Walur, Baliti dan Majangkan. Ketinggian air banjir di beberapa desa ini sampai mencapai 1,5 meter.

Ironisnya lagi, ternyata banjir di Gunung Timang Barito Utara ini adalah kejadian yang kedua kalinya dalam sebulan terakhir. Sebelumnya banjir menerjang Gunung Timang di pertengahan bulan Maret 2016 lalu. Sesaat air banjir surut kemudian kemarin Minggu, 3 April air banjir datang kembali menerjang belasan desa sekaligus.

Kabar buruknya, terjangan banjir di Gunung Timang diperkirakan akan sangat menganggu kegiatan Ujian Nasional siswa setingkat SMA dan SMK. Karena sekolah yang terendam banjir, otomatis ribuan siswa di Gunung Timang harus menjalankan Ujian Nasional dengan berendam banjir.

Selain banjir di Gunung Timang, banjir pun sampai menutup ruas jalan Nasional yang mengubungkan Muara Teweh dan Banjarmasin. Kali ini penyebab banjir di jalan nasional ini terjadi akibat luapan Sungai Sikuy, yang juga masih merupakan anak dari Sungai Barito. Sejak Minggu siang, 3 April kemarin banjir masih menutup total akses jalan nasional sampai dengan ketinggian 1 meter.

Padahal jalan lintas utama di Muara Teweh ini adalah jalur padat yang menghubungkan dua kota yakni Banjarmasin dan Palangkaraya, namun banjir bandang sepanjang lebih dari 500 meter dengan arus yang begitu deras itu membuat jalur utama ini lumpuh total. Antian panjang pun mencapai satu kilometer baik kendaraan bermotor maupun mobil dan truk. Pasokan logistik dan sembako dari dan ke Banjarimasin dan Muara Teweh pun terputus untuk sementara. (cal)

Ternyata Bukit Bintang di Gunung Kidul pun Rawan Longsor

bukit bintang rawan longsor

Menyikapi banyaknya potensi kejadian bencana longsor di Indonesia di puncak musim hujan ini, kewaspadaan untuk mendeteksi dan mengetahui sejak dini lokasi rawan longsor tentu mutlak diperlukan. Sebab bencana tanah longsor biasanya terjadi tanpa ada tanda-tanda sebelumnya yang mudah dikenali. Misalnya saja seperti kejadian longsor di Banjarnegara akhir tahun 2014 silam, longsor terjadi hanya dalam hitungan menit pasca hujan deras. Sekian detik kemudian satu dusun tertimpa longsor di Dusun Jemblung, Banjernagara. Sedikitnya hampir 100 orang tewas akibat kejadian tersebut.

Belajar dari kejadian longsor di Banjarnegara yang terjadi terus menerus, penting disadari bahwa banyak lokasi lain di Pulau Jawa yang memiliki potensi bencana longsor serupa. Satu titik yang cukup rawan longsor dan kabar buruknya lagi lokasi rawan longsor ini selalu dipadati oleh ratusan sampai ribuan orang tiap akhir pekannya sebagai destinasi liburan favorit. Lokasi rawan longsor ini terletak di Bukit Bintang, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Mengutip dari Tempo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunung Kidul memebenarkan bahwa lokasi wisata Bukit Bintang di Gunung Kidul memang rawan longsor.

Kondisi Bukit Bintang yang rawan longsor ini disebabkan oleh semakin banyaknya bangunan baru yang dijejali, ditumpuk di atas area bertebing tinggi yang terletak di Gunung Kidul, lokasi paling banyak pertumbuhan bangunan baru ini berpusat di Bukit Bintang. Lokasi yang sekian tahun terakhir menjadi destinasi pilihan favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Hanya berjarak kurang dari sejam perjalanan dari Kota Yogya, Bukit Bintang, Gunung Kidul ini memang menawarkan pemandangan indah Kota Yogyakarta dengan kerlap kerlip lampu Kota. Dinamakan sebagai Bukit Bintang sebab di lokasi ini lampu-lampu Kota Yogyakarta yang terlihat dari atas dan dari kejauhan nampak seperti kedipan bintang.

Namun karena lokasi Bukit Bintang ini berada tepat di ujung atau tepian bukit, pertumbuhan wisata yang terus mendesak mengakibatkan pinggiran Bukit Bintang ini kini banyak sekali berdiri bangunan baru. Sejumlah bangunan seperti warung-warung makan komersial berdiri tepat di pinggir tebing curam. Pertumbuhan warung-warung makan di pinggiran Bukit Bintang ini menjamur sejak beberapa tahun terakhir.

Kebanyakan bangunan permanen sampai semi permanen yang berdiri di pinggir tebing itu berada di wilayah administrasi Bantul. Parahnya lagi, Pemerintah Daerah setempat tak bisa berbuat banyak untuk melarang warga membangun bangunan baru sebagai pendukung wisata di Bukit Bintang. Sebab kebanyakan lokasi tanah di Bukit Bintang merupakan milik perorangan.

Jika tak ada pencegahan nyata untuk membatasi pembangunan bangunan baru di Bukit Bintang Gunung Kidul, bukan tak mungkin lokasi wisata yang berada tepat dipinggiran jalan utama penghubung Yogyakarta dan Wonosari ini akan amblas atau longsor dalam beberapa waktu ke depan. (cal)

Img: melancongjogja