Aksi Cepat Tanggap Gempa Alor, Begini Kisah Warga Alor dalam Derita Kemarau dan Gempa Bumi

By | 09/11/2015

ACT- Gempa Alor

Lempengan Eurasia dan Indo-Australia berjajar dari ujung barat Sumatera hingga ke Nusa Tenggara Timur, lalu membelok ke utara hingga ke wilayah Maluku dan Sulawesi Utara. Wilayah yang terlewati oleh pertemuan kedua lempeng besar benua ini punya potensi guncangan gempa yang dahsyat. Pelepasan energi di wilayah ini berlangsung setiap saat.

Pada pekan pertama November 2015 ini, gempa cukup besar kembali terjadi di jalur pertemuan dua lempeng ini. Kali ini pelepasan energi gempa terjadi di sekitar Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Rabu (4/11) tercatat sebuah gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter mengguncang wilayah ini. Kabarnya seribu lebih rumah rusak akibat guncangan gempa yang cukup kuat di waktu subuh.

Akhirnya, Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Pulau Alor mendistribusikan bantuan ratusan paket sembako untuk korban gempa di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bantuan kemanusiaan ini disebarkan di dua desa di Kecamatan Alor Timur, yakni Desa Kolana Selatan dan Desa Tapanglapui. Bantuan paket sembako ini pun diterima dengan antusias oleh warga.

Menurut warga, saat ini bantuan sembako memang sangat dibutuhkan. Pasalnya, selain menjadi korban gempa, mereka juga sedang mengalami musim paceklik akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Dua penderitaan dalam satu waktu.

Dikisahkan oleh Petrus Mose (47) Ketua BPD Desa Kolana Selatan, menurutnya warga di Alor ibaratkan sedang jatuh tertimpa tangga pula. Setelah sekian lama didera cobaan musim kering yang panjang sehingga menyebabkan musim paceklik, kini di tambah pula ujian gempa bumi yang cukup terasa.

“Lengkap sudah derita kami, musim paceklik yang menyebabkan rawan pangan ditambah pula rumah-rumah hancur akibat gempa,” ujarnya sambil memeluk tim Emergency Response ACT satu persatu.

Pria yang baru dikaruniai satu putra ini juga sangat mengapresiasi langkah cepat ACT dan MRI dalam merespon gempa Alor. Menurutnya selain pemerintah, ACT tim pertama yang datang memberi bantuan, bahkan sudah dalam bentuk paket sembako.

“Puji tuhan,apa yang sudah bapak-bapak berikan kepada kami semoga menjadi amal ibadah yang sangat bernilai di hadapan Tuhan,” tambahnya mendoakan.

Sementara Helena Yofuwara (35) warga Kolana Selatan yang saat ini tinggal di tenda darurat tidak jauh dari rumahnya, mengaku trauma dengan gempa bumi yang terjadi. Ibu berputra dua ini pun memilih tinggal di tenda darurat alakadarnya. Bahkan hingga tulisan ini diturunkan, sejumlah gempa susulan dengan kekuatan yang cukup masif kembali menyusul di wilayah Alor ini

Menurutnya, gempa pertama kali terjadi pagi pukul 05:25 Wita, gempa pertama tidak menimbulkan kerusakan bahkan seolah-olah memperingatkan warga agar mengeluarkan barang-barangnya keluar dari rumah, mereka merasa akan ada gempa susulan yang lebih besar. Akhirnya, betul perkiraan warga, gempa yang lebih hebat dan guncangan yang lebih kuat datang juga pada pukul 11:44 sehingga menimbulkan banyak kerusakan. (act.id)

“Untung saja kami sudah diperingatkan melalui gempa yang pagi hari, hingga saat gempa besar datang pada siang hari warga sudah bersiap dan berada di luar rumah,” ujar Helena.

Sementara Ketua MRI Alor Arapah (30) menegaskan timnya bersama ACT akan terus membantu meringankan korban gempa Alor, berbagai program penanganan bencana Alor sudah disiapkan timnya termasuk pemeriksaan kesehatan yang segera akan dilaksanakan di desa-desa terdampak gempa.

“Kami sudah berkomitmen untuk merespon total bencana gempa Alor ini, berbagai cara dan upaya akan kami lakukan hingga tuntas, hingga masyarakat kembali tersenyum,” ujar Arafah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *