4 Langkah Mencegah Kebakaran Hutan

By | 18/07/2016

kebakaran hutan Riau

Upaya untuk tetap siaga mencegah kebakaran hutan harus terus dilakukan. Apalagi ketika musim kemarau muali datang, potensi kebakaran masih bisa terjadi di titik-titik hutan Sumatera. Sebagian masyarakat sudah rahu bahwa hutan memang sengaja dibakar oleh oknum untuk pembukaan lahan, namun harus ada batasan supaya tidak terjadi kebakaran hingga menyebabkan bencana asap yang merudikan masyarakat.

Kebakaran sudah bagaikan langganan di negeri ini yang ironisnya disebabkan kepentingan individu. Penyebab kebakaran hutan yang terjadi terindikasi akibat pembakaran yang disengaja, baik yang dilakukan masyarakat (petani) lokal maupun pihak korporasi/perusahaan perkebunan.

Dikutip diri ACT news act.id, di Riau misalnya, menurut Gubernur Riau, Arsyad Juliandi Rachman sekitar 20 persen hutan dan lahan yang terbakar, saat titik api muncul pada awal Juli 2016 ini berada di areal konsesi perusahaan. Arsyad mengatakan analisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terkait pelanggaran hukum sedang diselidiki oleh Kepolisian Daerah Riau saat ini.

Bukan hanya tugas pemerintah atau Badan Penanggulangan Bencana, tetapi saatnya kita semua membuka mata dan hati, untuk tidak membiarkan bencana ini terus berulang. Bencana asap akibat kebakaran hutan, selain menelan banyak kerugian dalam sisi ekonomi, sosial dan kesehatan masyarakat yang terdampak.

Aksi Cepat Tanggap sebagai lembaga kemanusiaan dan  berpengalaman dalam hal manajemen bencana Disaster Management Institute of Indonesia DMII, menyampaikan ada 4 langkah preventif yang harus dilakukan pihak terkait untuk mencegah agar musibah tahunan ini tidak berulang:

Pertama. Kewajiban bagi aparat Penegak Hukum harus bertindak tegas terhadap pelaku pembakaran hutan, baik pelaku individu maupun pelaku dari oknum korporasi/perusahaan.

Kedua. Memberikan edukasi berkelanjutan berupa penyuluhan dan pendampingan kepada masyarakat yang kerap melakukan pembakaran hutan untuk pembukaan lahan pertanian, agar kebiasaan yang turun-temurun dari masyarakat tersebut tak dilakukan lagi. Cara ini bisa dilakukan oleh pemerintah setempat bersama Lembaga Masyarakat.

Ketiga. Bekas-bekas kebakaran lahan digerakkan untuk melakukan penanaman kembali pohon (reboisasi) hutan yang terbakar. Jangan dialihkan fungsi dijadikan lahan pertanian supaya masyarakat tak merasa bisa mengambil alih lahan.

Keempat. Melakukan pengamanan hutan lebih intensif (diperketat) terutama disaat musim kemarau datang. Aparat seperti polisi hutan sebaiknya dibantu aparat desa serta masyarakat setempat. Penjagaan hutan ini, selain dalam upaya menghindari terjadinya pelaku pembakaran hutan juga menghindari terjadinya penebangan liar. (aly)

Sumber: act.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *